(26) Jelang Lebaran

Oleh Risdo Simangunsong / @RisdoMangun

[Baca dari tengah mungkin membingungkan, sila baca dari awal]  


Sebentar lagi Lebaran. Hari demi hari kulihat jalan makin ramai. Orang-orang pun makin sibuk. Terburu-buru dan semakin sering mengabaikan sekitar. Mengabaikan orang sepertiku apalagi. Beberapa kali aku menerima lemparan uang tanpa tolehan wajah sedikit pun. Ah, tapi ya, semua toh patut disyukuri.

Spanduk-spanduk sebesar gaban menyesaki semua pinggiran jalan. Partai anu, dinas kota ini, orang entah siapa, lembaga entah apa, perkumpulan entah dari mana, menyajikan wajah senyum mengucap “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. Pusat perbelanjaan berjubel. Penjual-penjual kue lebaran menonjol tiba-tiba di depan toko-toko. Meriah, mewah, terlihat ramah... tapi jelas bukan untukku.

Malam bulan puasa ke duapuluh sudah lewat. Aku masih termangu, betapa hari raya telah takluk pada raja lama bernama harta. Tidak bisakah manusia menyisih sesisa-sisanya dana hari raya untuk yang lebih membutuhkan? Ketimbang sekedar kegairahan berhari raya untuk diri sendiri?

Aku menanyakan hal itu kepada remaja-remaja yang tadi bertanya soal sumbangan kami buat beasiswa sekolah anak. Mereka hanya tersenyum curiga. Bahkan mungkin melecehkan. Jelas mereka juga tak menyumbang...

Semakin lama aku semakin sadar... bahwa manusia memang suka untuk jadi saleh demi dirinya sendiri... kesalehan seperti itu tak perlu dimusuhi oleh setan, bahkan mungkin akan ditemani olehnya.

“Duarrrrrr....”. Ledakan itu mendiamkan dakwahku untuk diri sendiri.

Petasan dengan aroma khas mesiu itu meyesak penciumanku. Menggodaku untuk bertanya pilu:
“Seperti inikah kesalehan Ramadhan di masa kini?”. Ya, meriah, mewah, terlihat ramah... tapi jelas bukan untukku... []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com