Etnis Tionghoa (Katanya) Tidak Mau Berbaur

Oleh Gabriella Ria Apriyani / @hujanriaa

"Mengapa semua Cina peranakan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang tidak pernah mau berbaur dengan pribumi?"


Pertanyaan tersebut terlontar dari salah seorang teman pada saat presentasi budaya Cina di kelas Komunikasi Lintas Budaya(KLB) Jumat lalu. Alih-alih bertanya mengenai budaya dari negara yang sedang dipresentasikan, kelas KLB yang seharusnya menjadi ajang pertukaran pengetahuan soal budaya tersebut justru berubah menjadi kelas untuk memperdebatkan masalah sosial. Sebagai seseorang(dan mungkin satu-satunya di kelas itu) yang setengah darahnya Cina, saya merasa tertohok.

Premis selanjutnya dari teman saya adalah bahwa semua peranakan Cina di Indonesia sampai sekarang masih eksklusif. Mulai dari sekolah, gereja, hingga pergaulan. Semua berkumpul dalam satu komunitas tertutup dan ia menyebut peranakan Cina di Indonesia tidak mau berbaur dengan masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa, atau dengan istilah yang mereka gemar gunakan adalah pribumi. Dalam hati saya, saya bertanya-tanya, benarkah?

Sejak TK saya masuk ke sekolah swasta Katolik dimana mayoritas siswa di sana memang keturunan Tionghoa. Yang saya ingat, ketika ayah saya menyekolahkan saya di sana sama sekali tidak bermaksud membuat sebuah pagar pembatas antara saya dengan kelompok pribumi. Ayah saya hanya ingin agar saya tetap dapat dekat dengan tradisi kami, dimana dia berharap saya bisa banyak belajar dan berbagi dengan teman-teman saya, apa yang mungkin tidak bisa dia berikan secara maksimal mengenai tradisi leluhur kami. Tidak ada maksud sama sekali untuk menjadikan saya manusia eksklusif.

Lingkungan tempat tinggal saya 99% bukan keturunan Tionghoa. Kami hidup rukun dan baik-baik saja. Teman main saya saat kecil semuanya bukan keturunan Tionghoa dan kami tidak pernah memperdebatkan soal suku dan identitas saat itu. Kami bermain, kami bertengkar, kami saling curang, tanpa harus berpikir apakah saya Tionghoa atau bukan.

Di sekolah saya, banyak juga mahasiswa yang bukan berasal dari keturunan Tionghoa. Dan selama 14 tahun saya bersekolah di sana, tidak pernah sekalipun saya dengar ada perdebatan mengenai asal-usul suku ataupun etnis. Tidak sekali-kalipun. Teman-teman saya juga tidak. Kami tumbuh dan berkembang bersama, tanpa perlu memikirkan perbedaan

Sekalipun saya tidak memungkiri bahwa ada saja beberapa keluarga yang memang masih tertutup pemikirannya seperti yang dikatakan teman saya tersebut. Misalnya saja ada beberapa  teman saya yang berasal dari keturunan Tionghoa diharuskan oleh orang tuanya untuk memilih pacar(pasangan) yang juga merupakan keturunan Tionghoa. Tapi lebih daripada itu, berkaitan dengan pergaulan pertemanan tidak pernah ada pembatasan.

Kalaupun mungkin misalnya yang tampak bahwa sebagian besar anak-anak etnis Tionghoa disekolahkan dan dikuliahkan di sekolah dan kampus tertentu, saya pikir itu bukan sepenuhnya karena tidak mau berbaur. Saya tidak akan bicara soal kualitas di sini. Tapi lebih kepada kedekatan identitas dan efisiensi.

Sebagian besar etnis Tionghoa di Indonesia memeluk agama Kristen, Budhist, atau Kong Hu Chu. Dan sebagian besar dari orang tua mereka ingin anaknya bersekolah dan kuliah di Universitas yang berbasis agama Kristen, Budhist, atau Kong Hu Chu(saya kurang tahu apakah ada universitas yang berbasis agama Budhist, atau Kong Hu Chu. Kalau sekolah saya tahu ada). Tindakan itu didasarkan alasan supaya mereka mendapat pelajaran agama yang layak dan memadai, tidak kesulitan. Menurut saya ini logis. Apa bedanya dengan orang tua Muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis agama Islam?

Untuk semua ketidaksetujuan saya itu, saya merasa perlu memberikan sebuah argumen. Saya tidak memungkiri bahwa memang masih ada saja keturunan Tionghoa yang cenderung bersikap eksklusif. Mungkin lebih tepatnya saya tidak suka dengan kata 'semua' yang teman saya itu gunakan. Yang saya tahu, sekarang ini sebagian besar dari kami sudah berbaur. Karena perkembangan zaman, interaksi itu tidak bisa dihindarkan lagi.

Tapi pertanyaan teman saya itu pada akhirnya menjadi sebuah bahan renungan bagi saya selama beberapa hari ini. Mungkin saya dan orang-orang keturunan Tionghoa yang lain harus mengecek ke dalam diri kami, apakah benar kami masih saja terlalu eksklusif? Namun, intropeksi diri ini juga menurut saya tidak bisa dilakukan sepihak saja. Saya tidak mau menutupi bahwa sampai saat ini masih ada saja masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa yang melontarkan ejekan bernada SARA, sekalipun tidak frontal. Jadi bukankah ini berarti kedua belah pihak harus sama-sama intropeksi?

Entah kenapa sampai saat ini saya pribadi tidak pernah bisa menyukai istilah pribumi dan non pribumi. Istilah itu menjadikan identitas asal saya seolah sangat jauh dari Indonesia. Saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia, pertama kali menapakkan kaki di sini, meminum airnya, menghirup udaranya. Saya benar-benar merasa Indonesia. Bukan berarti kan mata yang sipit dan kulit yang lebih putih menjadikan saya bukan bagian dari Indonesia?

Jujur, saya takut terlalu lama istilah itu dipakai, nasionalisme saya terkikis karena lama-kelamaan saya bisa jadi merasa bahwa saya bukan orang Indonesia. Saya tidak kehilangan cinta pada negara ini, hanya saja pada sebagian masyarakatnya. Saya harap hanya saya sendiri yang merasa takut akan hal ini. Saya harap istilah pribumi dan non pribumi bisa terdengar lebih ramah di sini.

70 komentar:

  1. memang klau tidak mau berbaur itu jadi masalah ya? biasa aja kali.. wa juga orang tionghoa.. dan wa juga sama gk mau bergaul dgn org pribumi.. kenapa.. ?? itu karena wa punya alasan tersendiri.. soalny punya pengalaman pahit berteman dgn org pribumi.. so sekarang teman wa rata" orang china.. karna .. sekolah wa berbasis buddhist..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sperti u ni la yg mnyebabkn generalisasi etnis tionghoa tu d anggap eksklusif, mending u jauh" deh sn, merusak citra etnis tionghoa saja u

      Hapus
    2. Justru masalah @Vera Linn. Lu menghancurkan etnis lu sendiri. Kalau kondisi Indonesia seperti di Myanmar, nasib lu bisa seperti suku rohingya.

      Gua perhatiin di Indonesia, suku/etnis Tionghoa di Indonesia itu (mayoritas) tempat tinggalnya seperti berada dalam wadah yang terpisah dengan suku lain. Lu etnis Tionghoa tempat tinggalnya berada di lingkungan/desa yang seluruh keluarganya beretnis Tionghoa (umumnya di perkotaan)


      Hubungan antar suku/etnis di Indonesia juga begitu, hubungan etnis Tionghoa dengan suku lain itu memang jauh lebih eksklusif (walau tidak semua individu Tionghoa ya...). Gua misalnya, suku Jawa berteman akrab dengan suku Batak, Melayu, Karo, Minang dan berbagai suku lainnya. Gua berkelahi, gua berteman baik, gua bermain dan segala hal dengan suku lain dilingkungan gua.

      Kami suku asli Indonesia bahkan melakukan perkawinan antar suku seperti Jawa dengan Padang, atau dengan Batak.

      Kalau masalah pemilihan pacar atau pasangan suami/istri, kami hanya meng-eksklusif-kan diri untuk sesama agama saja. Tak masalah kawin berbeda suku asal satu agama, karena selain larangan dalam agama kami, ini juga untuk menghindari modarat.

      Cobalah untuk meniru suku Jawa. Suku ini tersebar di seluruh nusantara. Mulai dari Sabang hingga Merauke ada suku Jawa, dan seluruh suku Jawa mayoritas berbaur dengan suku lain disekitarnya. Hanya saja kami akui, kami suku jawa jarang berbaur dengan etnis Tionghoa. Bukan karena kami enggan, tapi sepertinya ada dinding pembatas yang dibuat etnis Tionghoa dengan suku lain di Indonesia.

      Semoga kedepannya suku/etnis tionghoa bisa lebih berbaur dengan suku asli Indonesia.

      Hapus
    3. Jika ada suku asli Indonesia yang membuat tersinggung etnis Tionghoa khususnya untuk masalah rasis atau diskriminasi, saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.

      Namun saya juga meminta agar etnis Tionghoa mau lebih membuka diri kepada suku asli Indonesia. Bukan apa, ada pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak sayang". Kami suku asli mayoritas memang tidak terlalu mengenal kebiasaan dan bagaimana hidup etnis tionghoa. Sehingga kami bingung harus berinteraksi seperti apa dengan etnis tionghoa.

      Ini sama seperti di kelas. Saat kita menjadi murid pindahan, kita bingung harus berinteraksi seperti apa di kelas itu, karena masing-masing siswa atau murid sudah membentuk lingkungannya sendiri2 dan saling mengenal. Ini membuat kita yang siswa baru bingung harus berinteraksi seperti apa,, karena memang tidak mengenal.

      Dengan membuka diri, maka kami bisa mengerti bagaimana kami harus menjaga perasaan etnis tionghoa.

      Etnis asli di Indonesia juga begitu. Sejak masa kemerdekaan, kami berbagai suku asli di Indonesia sudah membuka diri utnuk mengenal berbagai suku lain di nusantara. Terutama dengan dipakainya semboyan "Bhinneka Tunggal Ika", maka kami tahu bahwa diluar sana ada suku lain selain suku kami. Maka kami coba mempelajari suku lainnya. Kebetulan suku lain juga sedang mempelajari suku lain selain suku mereka. Sehingga antara satu suku dengan suku asli lainnya ada saling keterbukaan karena memang saling mempelajari.

      Karena etnis Tionghoa sejak lama menutup diri, dan tidak terbuka. Maka kami sulit mempelajari. Ini jadi seperti murid pindahan baru ditengah2 kelas yang sudah membuat lingkungannya sendiri. Satu-satunya cara agar murid pindahan baru bisa ikut bergabung dalam lingkungan kelas, hanyalah dengan membuka diri. Jika tidak bisa membuka diri, maka anda hanya akan jadi murid kesepian..

      Hapus
    4. Hargai lah orang biar beda suku agama dan kebudayaan jangan peduli sama orang yang tidak punya akal yang suka melebihlebikan egonya

      Hapus
    5. Hargai lah orang biar beda suku agama dan kebudayaan jangan peduli sama orang yang tidak punya akal yang suka melebihlebikan egonya

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    7. Gak masalah buat cici, sy knl sekali dgn ketua organisasi tionghoa di Indonesia. Mereka menyarankn berteman dgn siapapun sj dan tdk memandang suku. Klo soal budaya sy mgrti skli. Sbnrnya sdh bnyk yg berbaur d jkt org tionghoa sprti di kramat sentiong.. Mereka bercanda ria sm org pribumi tp klo soal jodoh msh bnyk yg Ikuti tradisi sprti org batak sm batak, padang dgn padang, dll tu tdk mslh.

      Hapus
    8. @Vera Linn : orang rasis dan bodoh dalam menilai seperti lu cocoknya bikin negara sendiri. Keluar dari Indonesia krn Indonesia itu ditakdirkan dgn masyarakatnya yg homogen. Gak cocok lu tinggal di Indonesia. Lu cocok banget kalo dideportasi. Pantes.

      Hapus
    9. Orang keturunan Tionghoa kalo yang tajir2 ya maunya sama orang pribumu yang kaya2 lah. Semua juga gitu bergaul sesuai dengan kelasnya...
      Bukan berarti eksklusif.kalo yang kaya mana mau main sama orang2 di kampung. Mudah2an dimengerti

      Hapus
    10. Tapi si vera ini emg orang minta dideportasi. Tapi deportasi mana mungkin negeri China nya mau. Orang yang dulu orang tionghoa cuman nenek moyangnya. Ya lu ya orang indonesia cuman masih ada turunan.

      Hapus
  2. Kl gt pergi aja ke negara nenek moyang km.,gak ush di indonesia..,pergi aja lah,km tuh udh bangsa pendatang pake belagu lagi,kembali aja ke cina Sana,kumpul kmbli ma bangsa bangsamu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik anda buka buku sejarah SMA. Tionghua bukanlah bangsa pendatang. Cari saja proto dan neutro melayu. Mungkin bisa mengubah pikiran anda soal bangsa pendatang.

      Hapus
    2. @dimas Emang nenek moyang Indonesia dari mana ya asalnya?

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Tapi saya penasaran dgn gelombang masuknya warga cina akibat perang candu. Anyone can explain it? Kedua, apakah stereotipe warga keturunan angkuh akibat tragedi 98??? Maksud saya, tragedi itu mmg sangat buruk, tapi generasi2 selanjutnya yg tdk ikut merasakan 98 apa perlu didoktrin bila pribumi itu bangsat?? Saya pernah dgr, generasi saat ini akibat dari pengalihan dendam generasi tua pada pribumi yg harus diturunkan ke generasi muda?? Saya benar2 penasaran dgn awal mula adanya stereotipe cina (peranakan) itu angkuh.

      Hapus
    5. Tapi saya penasaran dgn gelombang masuknya warga cina akibat perang candu. Anyone can explain it? Kedua, apakah stereotipe warga keturunan angkuh akibat tragedi 98??? Maksud saya, tragedi itu mmg sangat buruk, tapi generasi2 selanjutnya yg tdk ikut merasakan 98 apa perlu didoktrin bila pribumi itu bangsat?? Saya pernah dgr, generasi saat ini akibat dari pengalihan dendam generasi tua pada pribumi yg harus diturunkan ke generasi muda?? Saya benar2 penasaran dgn awal mula adanya stereotipe cina (peranakan) itu angkuh.

      Hapus
  3. saya turut prihatin mbak denga kebhinekaan kita praktek bigot yg ditanam voc beberapa dekade yg lalu masih saja membuat etnis tionghoa dan etnis asli saling menciptakan segregasi. sampai di kehidupan sosial kita masih saja saling membentengi diri. semoga jiwa nasionalisme tetap utuh mbak, saya pribadi menganggap anda orang indonesia beretnis tionghoa dan bukan orang cina. salam satu untuk indonesia.

    BalasHapus
  4. Kayaknya ga penting kali ku tengok ada perbedaan inilah itulah..
    Tahapa??
    Aku aja gak ada masalah bekawan sama orang2 china?
    Pekara suku budaya??
    Halaaah..TAK ada itu..taik kucing!
    Aku punya kawan beberapa orang china,kami gak ada masalah apa2??
    Malah selama kami bekawan dari SD sampek sekarang kami berusia 24 tahunan,gak ada masalah semua terjalin bagus..
    Justru menguntungkan,karna kami punya usaha yg kami dirikan sendiri..
    Meski baru merintis,tapi kami yakin dgn keyakinan kami masing2,percaya bahwa Tuhan bisa selalu bantu kami..
    Masalah ada china yg tak mau bekawan sama org pribumi,kurasa perlu di bawak k RSJ,d priksa dulu kejiwaannya,normal apa enggak..

    Sepala kalau memang ada org2 china yg ga mau bekawan sama org pribumi,ngapain pulak kau idup d negri org??
    Balek ajalah k negaramu?
    Dari pd nyarik ribot yg berujung tak enak?
    Gitu aja kok repot?

    BalasHapus
  5. mau tanya gan .cewe putih , cantik , baik , sexy bukan cuma keturunan cina tapi gak tau kenapa setiap ngeliat mereka apalagi mata nya gua ngerasa klo jodoh gua ada diketurunan cina , tapi disisi lain gua slalu mindir buat ngedeketin mereka karna mereka yg terlalu sempurna . gue pernah coba buat nyari cewe lain tapi gue gak munafik klo gue tetap suka sama cewe cina . gue mau nanya gan perasaan ini terjadi apa karna selera apa karna gua ada garis keturunan tionghoa juga soal nya mata gue sipit juga , cara gue berjalan sama kaya cwo tionghoa juga sering nunduk dan model rambut gue pun sama. tapi gue juga bingung soal nya gue tinggal di lampung dan kakek nenek gua juga asli orang lampung . klo ada yg bisa bantu tolong kasih tau ya

    BalasHapus
  6. mau tanya gan .cewe putih , cantik , baik , sexy bukan cuma keturunan cina tapi gak tau kenapa setiap ngeliat mereka apalagi mata nya gua ngerasa klo jodoh gua ada diketurunan cina , tapi disisi lain gua slalu mindir buat ngedeketin mereka karna mereka yg terlalu sempurna . gue pernah coba buat nyari cewe lain tapi gue gak munafik klo gue tetap suka sama cewe cina . gue mau nanya gan perasaan ini terjadi apa karna selera apa karna gua ada garis keturunan tionghoa juga soal nya mata gue sipit juga , cara gue berjalan sama kaya cwo tionghoa juga sering nunduk dan model rambut gue pun sama. tapi gue juga bingung soal nya gue tinggal di lampung dan kakek nenek gua juga asli orang lampung . klo ada yg bisa bantu tolong kasih tau ya

    BalasHapus
  7. Rata rata orang cina di Indonesia ada jg yg dateng dari cina waktu reformasi 1949 waktu cina dikuasai komunis ....... makanya nasionalisme nya masih besar ......

    BalasHapus
  8. Duhh.. ini tuh pembahasan yang sangat sensitif banget loh.
    Cuma mau berbagi cerita aja sih. Gw gk punya turunan tionghoa dan dari kecil ruang lingkup gw gk pernah ada orang tionghoa. Dan itu membuat gw gk tau gimana mereka itu and u should know, honestly i had firts impression dan itu negative tentang orang tionghoa sampe pada akhirnya ada 2 tmn SMA (negri jkt) gw yg turunan tionghoa bahkan dia masih bisa bahasa cina yg bikin gw tau kalo mereka itu baik ditambah lagi gw punya pacar yg turunan tionghoa trs gw kerja di salah satu WO yang ruang lingkupnya di jakbar dan jakut so itu WO ngurusin wedding org tionghoa beserta adatnya yg unik dan gk pernah gw temuin sebelumnya (maklum jawa bgt) terus gw pernah ikut jadi relawan untuk anak jalanan di daerah jakbar dengan salah satu pencetusnya adalah orang tionghoa dan volunteernya juga mayoritas orang tionghoa di pikiran gw cuma "oh my god ternyata mereka memang orang indo yang mau merelakan waktu weekendnya buat ngajarin anak2 kolong jembatan ini dan yg bikin gw terharu adalah disaat kita nyayiin lagu indonesia raya disitu bener2 jiwa nasionalisme gw bangkit smape air mata gw berlinang (lebay but is truth).dan gw penasaran sampe nanya pendapat cwo gw tentang orang tionghoa dan org indo and he said "aku emng keturunan cina tapi aku lahir dan gede disini dari kakek buyut aku sampe skarang aku masih disini so aku ini orang indo yg keturunan cina" Nah dari situ gw membuka pikiran gw dan mereview pengalaman gw tadi yang mempengaruhi pandangan tentang org tionghoa di indo. Dan ini pendapat gw :
    1. Gk semua org tionghoa itu sombong, gk suka berbaur dan sebagainya tapi itu tergantung individunya sendiri yg mau apa ngk buat berbaur
    2. Yg tadi di bilang "kalo gk kenal maka gk sayang" kalo kitanya sendiri yg gk mau cari tau gimana mereka ya gimana lu bisa tau mereka so jangan asal judge
    3. Gw salut karena Walaupun orang tionghoa udah lama di indo dia tetep pegang adat dari leluhurnyagk kaya kebanyakan orang indo yg gk mau ngelestariin budayanya sendiri
    4. Lu nanya nasionalisme orang tionghoa gimana? Ya liat aja kita orang indo gimana? Msih banyak yg bercanda pas pengibaran bendera di sekolah.

    So intinya gw berharap selalu inget bhineka tunggal ika dan jangan lupa juga sebelum kita menjudge orang lebih baik kita intropeksi diri dulu dan banyak belajar juga apalagi dari pelajaran hidup. So have a great day :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang siapa yang nge-judge? Itu diatas saya nulis agar lebih banyak orang tionghoa membuka diri, pernyataan itu gak ada kandungan nge-judge sama sekali. gak mau cari tau? tau dari mana orang pribumi gak mau cari tau?

      Lagian tuh komen paling atas contohnya, salah satu satu contoh yang gak mau berbaur dengan orang pribumi. cuma dikecewain dikit sudah ilfill sama orang pribumi.

      Hapus
    2. Kalau orang yg komen paling atas gak mau berbaur yasudahlah. Orang Indonesia aja juga banyak yg busuk. Tapi bener yg dikatakan mba dita kenyataannya masih banyak yg main2 pas pengibaran bendera. Ga mau tau karena kita sering ngambil kesimpulan dari kelakuan satu orang terus ngejelekkin etnisnya. Kalau masalah itung2an sih gak masalah ya pake "sampel2". Tapi masalah ini adalah hal yg tidak bijaksana jika ngelihat orang, terus menjadikan orang itu "sample" atas suku atau etnisnya. Ya mungkin sial di org2 yg rasis ya, ketemunya sama org yg rasis juga. Gak peduli lah siapa yg duluan rasis. Kalau udh ikutan rasis, ya gak ada bedanya.

      Hapus
    3. Bukanya banding2in nih ya. Gua sendiri ada turunan campuran jawa pribumi dan Tionghoa. Jadi gua udah ga ada relasi sama bahasa2 daerah China ataupun merayakan imlek dari jaman buyut saya sudah ga pernah saya ga pernah ada keterkaitan kalo ngeliat orang2 Tionghoa. Kalo Tionghoa jawa mereka berbaur banget koq. Bahkan darah tionghoa nya ga mungkin murni lagi. Yang suka ga tau diri dan nyebelin si Tionghoa Bangka kaya Ahok dan Sumatra. Itu sih emang pengen digampar pak mulutnya. Kaya ga sekolahan.ya emang. Pengen dideportasi aja rasanya. Ngomong aja pake bahasa China melulu

      Hapus
    4. Bukanya banding2in nih ya. Gua sendiri ada turunan campuran jawa pribumi dan Tionghoa. Jadi gua udah ga ada relasi sama bahasa2 daerah China ataupun merayakan imlek dari jaman buyut saya sudah ga pernah saya ga pernah ada keterkaitan kalo ngeliat orang2 Tionghoa. Kalo Tionghoa jawa mereka berbaur banget koq. Bahkan darah tionghoa nya ga mungkin murni lagi. Yang suka ga tau diri dan nyebelin si Tionghoa Bangka kaya Ahok dan Sumatra. Itu sih emang pengen digampar pak mulutnya. Kaya ga sekolahan.ya emang. Pengen dideportasi aja rasanya. Ngomong aja pake bahasa China melulu

      Hapus
  9. Wah kasihan ya Orang China Jaman Sekarang, gk paham betul dengan budaya asli mereka sendiri, Bahasa Mandarin banyak yg gk bisa lebih parahnya lagi banyak yg gk bisa menggunakan sumpit wah, Mau tidak mau orang CINA HARUS BERBAUR DENGAN BANGSA INDONESIA, Ingat Cina peranakan juga bagian dari Indonesia, Jadi ayo kita bangun negri ini bersama

    BalasHapus
  10. di kampung saya tepatnya di kota malang ada tuh etnis china muslim dan kristen yg berbaur dg etnis jawa, arab dan madura...malah ada pria jawa istrinya china peranakan....meski ditentang sama keluarga si wanita...toh mereka menikmati hidup....anakny cantik lagi...pgn aku pacarin tp kok ga pede xixixixi...salam pancasila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang tuanya aja ga tau diri. Orang jatuh cinta ga pandang bulu. Tapi ya kadang kalo beda kultur susah juga apalagi yang masih menjaga banget kulturnya ya. Kalo misalnya kultur Tionghoa sudah pudar ya ga ada salahnya berbaur.

      Hapus
  11. oiya...walikota malang juga dari etnis china cmn namanya lebih familiar muhammad anton...xixixi...so ga ada masalah
    ...wong kita semua menikmati udara yg sama kan...kalo kena asap sama2 rasain..

    BalasHapus
  12. Menurut opini saya, tidak semua orang tionghoa itu sombong hal itu tergantung pada setiap individunya.

    BalasHapus
  13. manusia tempatnya salah, punya kelebihan dan kekurangan, sebaiknya masing2 pihak berkaca dengan kesadaran sendiri.

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Ya sudah lah teman2, kalo mmng Vera lin nya ga suka berbaur jgn dipaksain dong.. mungkin itu yg terbaik di jiwanya ya silahkan dia jalanin. Toh jg hidup bukan utk pemaksaan. Kita damai2 sj itu akan lebih baik. It's just miss aproachable I thinked.

    BalasHapus
  16. keanekaragaman di Indonesia sungguh indah

    BalasHapus
  17. Banyak literatur,rujukan sejarah atau apapun. Tapi pada kenyataannya kita semua tau, etnis tiong hoa adalah warga negara indonesia yang berkebangsaan china. Sama halnya seluruh kaum yahudi yang tersebar diseluruh dunia.Di negara manapun mereka tinggal, bangsa mereka tetap yahudi.

    BalasHapus
  18. Mau cerita dikit nih.. aku peranakan jawa, bali. Tp lingkungan teman kerja dan rmh ku semua etnis tionghoa. Dan akhirnya deket dng cwo chinese msh sebatas temen. Lalu ortu si cwo ngga setuju kalau aku dng dia brlanjut ke hubungan yg serius. Pdhl aku dng dia sama2 memiliki perasaan.. jd kita skg mnjalani HTS. Kenapa ya jaman skg msh susah bgt berhubungan beda ras gt.. dan menurut kalian.. aku harus bagaimana? Apa aku harus mengakhiri hts? Berat bgt rasanya kalau ngga bs deket dia lagi..

    BalasHapus
  19. semua tergantung pada diri sendiri, saya cowo orang indo saya menjalin hubungan dengan cewe indo-cina ya baik-baik saja.

    BalasHapus
  20. Woles aja mah gw..Cwe gw Tionghoa beda agama lg pdhal gw muslim..tp enjoy tahan2 aja..paling brantem cma masalah baperan..yah mungkin tertutup semenjak orba mungkin..tp skarang udh g seperti dlu..Indonesia yah indonesia..Kbnyakan juga skarang mreka condong keindonesiaan..selera makan sama,ngomong juga blak2an ampe lupa cwe ama tmen2 gw cina..yah Intinya mending luka lama d obatin aja..asal yah lu Cinta Indonesia sebagai tanah air..yah woles..ktp juga WNI..sama aja.cma beda muka kulit agama doank..

    BalasHapus
  21. Woles aja mah gw..Cwe gw Tionghoa beda agama lg pdhal gw muslim..tp enjoy tahan2 aja..paling brantem cma masalah baperan..yah mungkin tertutup semenjak orba mungkin..tp skarang udh g seperti dlu..Indonesia yah indonesia..Kbnyakan juga skarang mreka condong keindonesiaan..selera makan sama,ngomong juga blak2an ampe lupa cwe ama tmen2 gw cina..yah Intinya mending luka lama d obatin aja..asal yah lu Cinta Indonesia sebagai tanah air..yah woles..ktp juga WNI..sama aja.cma beda muka kulit agama doank..

    BalasHapus
  22. Sudah saatnya ada perkawinan Jawa China biar silaturahmi lebih erat sesama etnis. MODUS jomblo cari jodo. Hhhha...

    BalasHapus
  23. Sudah saatnya ada perkawinan Jawa China biar silaturahmi lebih erat sesama etnis. MODUS jomblo cari jodo. Hhhha...

    BalasHapus
  24. Salam buat orang Indonesia berdarah tionghoa dr orang Indonesia brdarah minang,, "dimano bumi dipijak disinan langik dijunjuang"

    BalasHapus
  25. Saya indo asli saya setuju dengan tulisan di atas bahwa penggunaan istilah pribumi dan non pribumi hanya menambah jarak saja antara suku Tionghoa dan suku lainnya di Indonesia.

    BalasHapus
  26. Saya indo asli saya setuju dengan tulisan di atas bahwa penggunaan istilah pribumi dan non pribumi hanya menambah jarak saja antara suku Tionghoa dan suku lainnya di Indonesia.

    BalasHapus
  27. Gw cuma berharap, bagaikan orang jawa, sunda, batak dll cara bergaulnya bisa di contoh sama orang tionghwa. Bukan hanya pergaulan saja namun juga tentang pernikahan/pembauran. Hal ini nggak akan menghapus adat dan budaya tionghwa itu sendiri kok, buktinya budaya2 pribumi sampai sakarang masih lestari.

    Tertutupnya pergaulan tionghwa masih gw rasakan sampai sekarang di dunia kerja. Mereka mau bergaul dan brteman dengan kami yg pribumi, namun soal karir, kami yg pribumi ini ngga lebih dari buruh. Padahal banyak dari kami yg berpengalaman dan lebih lama dari orang tionghwa yg baru masuk kerja kemarin sore yg saat itu tau2 sudah bisa jadi atasan kami.

    Pembatasan karir dan pergaulan yg ciptakan etnis inilah yg memicu terjadinya rasisme dan rasa tidak suka terhadap etnis tionghwa.

    Berikutnya sebagian (tidak semua) tionghwa yg dibilang "sombong" itu berasal dari daerah perkotaan. Tapi klo di desa seperti daerah cina benteng sampai tangerang pedalaman, mereka bergaul dengan sangat baik dengan kami, sama sekali tidak eksklusif.

    Suatu saat juga, teman tionghwa di kantor bilang didaerahnya, klo ada anak orang cina kawin sama primbumi, orang tua nya akan tega sampai memutus tali keluarga dan tidak mengakuinya sebagai anak. Ini ternyata terjadi sama sodara jauh gw.

    Gw pribumi atau gw tionghwa itu bukan pilihan tapi Tuhan menciptakan gw seperti kehendakNya. Selama orang itu sadar bahwa dia manusia, yg lahir dan bernafas, makan minum, menangis dan tertawanya, serta mati seperti manusia yg lain. Maka seharusnya tidak ada lagi rasa eksklusif pada dirinya. Sebaik2 kulit akan keriput, sebaik2 raut muka akan menjadi buruk, sebaik2 karir dia akan mati.

    BalasHapus
  28. Karena mayoritas cina bermental mandiri dan pengusaha tanpa pernah berpikir untuk minta bantuan pemerintah apapun kondisi kami, kami wajib berusaha sendiri. Kebalikan dengan orang jawa yang berasumsi mereka adalah mayoritas dan harus diprioritaskan oleh pemerintah, karena itu mayoritas orang jawa pemalas, pengemis, dan hobi mengeluh. Beda halnya dengan pribumi dari sulawesi, kalimantan, sumatra, bali, bahkan irian jaya tidak malas, kalau anda tidak percaya coba anda bertanya pada orang bali pandangan mereka tentang orang jawa itu bagaimana, pasti dibilang pemalas, mau contoh? Lihat saja tukang parkir yg cuma nongkrong di pantai kuta semuanya adalah orang jawa, tidak ada orang bali yg mau kerja parkiran karena sebenernya itu adalah pekerjaan haram, tidak ada bedanya dengan preman yg minta uang keamanan saja. Karena itu kamu orang cina tidak mau tertular virus kemalasan tersebut dan memilih untuk tidak bergaul. Hal yg berbeda dengan orang cina di daerah minoritas islam, jika anda perhatikan di manado, bali, medan (kota) tidak terjadi eksklusifitas dari kaum cina, karena mereka tidak takut tertular virus kemalasan akibat bergaul dengan pribumi non jawa yg tidak malaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak sih Pemalas gua campuran Jawa dan Bugis.besar dikalimantan saya pengusaha.rata rata orang etnis Tionghoa memang jaga jarak dengan pribumi.tidak pernah tu lihat orang Tionghoa kerja bakti kayak pribumi endak tahu saya pun bingung.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Masak sih Pemalas gua campuran Jawa dan Bugis.besar dikalimantan saya pengusaha.rata rata orang etnis Tionghoa memang jaga jarak dengan pribumi.tidak pernah tu lihat orang Tionghoa kerja bakti kayak pribumi endak tahu saya pun bingung.

      Hapus
    4. Jelas pemalas lah.liat aja tuh tukang parkir apa bukan pemalas? Ga usah blg mreka berjasa amanin motor krn di banyak tempat, seperti atm bca, ga usah dijagain jg ga bakal dicolong. Lah rata2 cuma ambil duit atau priksa saldo paling 1 - 2 menit. Itu jg sekali2 nengok liat motor. Jadi kalo ditanya masa sih pemalas? Gw jawab iya pemalas. Coba u jalan ke daerah lain macam bali, ga da tkg parkir org suku bali. Coba lagi gorontalo - manado, smua tkg parkir nya org jawa.

      Hapus
    5. Nah yg seperti anda itu persis yg sok mengeksklusifkan diri inget bung klo gak ada orang pribumi yg mau kerja sama Tionghoa usaha kalian gak akan bisa berdiri dengan lancar

      Hapus
  29. ada pertandingan bulu tangkis asia indonesia vs cina . siapa yang saya dukung ?? INDONESIA, KENAPA BUKAN CINA?? Karna saya tinggal di indonesia suku tionghua bkn cina. di indonesia tidak ada tionghua yang mendukung cina apabila indonesia vs cina di ajang apa pun.

    BalasHapus
  30. Kalau aja etnis di tionghoa mau berbaur dengan pribumi kami welcome ko , ga perlu takut dengan diskriminasi , kalau kita saling mengenal satu sama lain itu lebih enak jadinya dan tidak ada pendiskriminasian, kalau kita kenal artinya kita saling sayang, kalau kita tak kenal maka tak sayang ,kalau kita tak sayang maka akan timbul rasa prasangka ya buruk, kalau di biarkan akan timbul permusuhan, , jangan sampai deh kebinekaan bangsa Indonesia pecah gara memperbedakan etnis atau suku, maka dari itu mungkin ini bisa jadi renungan Buat para etnis Tionghoa untuk lebih berbaur lagi dgn masyarakat pribumi , dan kami akan selalu terbuka untuk kalian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka masih trauma kali sama kejadian 1998. Apalagi yang sampe tokonya di bakar dan lain2. Yg ada anggota keluarganya diperkosa. Kalo yang keluarganya ga pernah ngalamin ya engga bgitu kalii. Tionghoa jawa aja sama sekali ga begitu lah. Di jawa itu orang krturunan tionghoa beranggapan tanpa pribumi kita bukan apa2.

      Hapus
  31. Mmang bner kurang berbaur ....

    BalasHapus
  32. Apapun suku anda, agama anda, tidak ada kaitannya dgn moralitas. Moral yg mengemban manusianya sendiri. Bila ada grup2 tersendiri dlm masyarakat itu akibat manusia nya kurang piknik! Kok mau2nya kemakan apa kata orang!stereotipe kok ditelan mentah! Saya madura, dan stereotipe org madura tau sendiri lah kaya apa. Tapi ngga semua org madura sama dgn stereotipe yg berlaku saat ini.

    BalasHapus
  33. Cina medan paling parah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha betul...betul...betul....

      Hapus
  34. Di Palembang juga sama , mereka ga mau berbaur, saya sedari kecil bertanya-tanya kenapa rumah mereka berdekatan semua hampir jd komplek khusus, ga ada rumah mereka yg berdekatan dg rmh penduduk pribumi, ternyata mereka tdk mau berbaur, kemudian mereka juga tidak mau membalas sapa saat saya menyapa, malah mereka diam saja, ini bukan satu dua org, tp bnyak, dr sana saya mengerti seolh mereka memberi batasan atau juga merasa org pribumi tdk perlu bergaul dg mereka, sampai ad beberapa org mereka yg secara tdk langsung menghina pribumi , dg menyombongka diri mereka lebih dr org pribumi baik dalam sikap tingkap laku dsb, kalo memang seperti itu kenapa tidak memberi masukan pd pribumi , dg cara berbaur bs menumbuhkan keserasian, bukan malah memisahka diri, yg membuat org pribumi jd mikir negatif, jika seperti ni terus, bkn tdk mungkin lama2 kembali lagi terjadi hal2 yg tdk di inginka.

    BalasHapus
  35. Gadis-gadis Tionghoa...makhluk tercantik yang pernah tercipta di alam semesta...

    BalasHapus
  36. Gue suka banget sama orang* chinese indonesia, tapi sayang mereka gak suka gue :(

    BalasHapus
  37. ETNIS TIONGHOA mungkin sibuk jadi gak semuanya harus berbaur, yang penting kita satu BENDERA MERAH PUTIH, Berbeda-beda itu indah hehehe...
    (gak semuanya etnis tionghoa sombong lho gan)
    disini Orangnya baik2 Asal kita saling bekerjasama dalam bisnis pasti kita akrab... hhee

    BalasHapus
  38. Klo ngmng soal gni'an mah kg ad abis ny dah, tp jd tringat ms2 kecil dl. Lingkungan rmh gw jg bnyk cina, bhwkn prnh tetangga gw yg cina tu nginep d rmh gr2 ad hal mistis yg lg santer d lingkungan rmh (lupa thn brp krn gw msh sklh sd kls 1 ato 2), nah bbrp org cina d lingkungan rmh yg dl ny main bareng g tau knp udah pd dewasa & nikah mlh ky g kenal (ktm d jln y lewat2 aj) gw rasa cina2 yg g brbaur tu org2 yg merasa kaya, merasa pny jabatan ato mngkn jg dr kcl mmng g brbaur sm lingkungan, asal lo tau thn 98 toko2 org cina dkt rmh gw mlh d jagain sm wrg sktr, bokap gw smp ribut sm org yg g tau asal ny dr mn mo bakar mobil org cina (bokap said: lo mo bakar ni mobil silahkan asal jngn d daerah gw, ni daerah gw) pdhal tu mobil pny cina sebrang yg klrg gw jg g knl sp org ny. Sadarilah bhw suku asli msh bnyk yg mau welcome dngn kalian, slm kalian jg welcome dngn kami. Dngn 1 catatan jngn mmprovokasi soal kyakinan, karena bnyk d medsos2 brtebaran yg mnyinggung soal kyakinan

    BalasHapus
  39. Mohon ijin share sedikit..terutama utk kalian yg masih Rasis, untuk para orangtua yg masih Rasis..


    Nenek sy chinese menikah dgn kakek yg orang Belanda asli (bukan belanda Depok:p) lalu mamanya menikah dengan papa sy yg keturunan Jawa. Sy akui dulu sy adalah seorang playboy, tp entah knp saat sy memiliki pacar seorang Tionghoa rasanya utk membohongi mrk saja sy ga sampai hati apalagi utk selingkuh. Bisa dibilang sy insyaf krn cewek Tionghoa tersebut, namun entah kenapa sy miris melihat kenyataan bahwa mereka harus mengambil keputusan yang sulit utk pisah dengan sy meskipun mereka sangat mencintai sy.

    Yg lebih miris lg pacar sy yg terakhir, dia wanita idaman sy banget, banyak teman2 yg bilang wajah kita mirip dan mendoakan kita. Namun pada akhirnya dia bingung sampai stress sendiri saat papanya bilang ke dia "kamu ngapain pulang bareng cowok pribumi"..disitu dia selalu terngiang2 dan suka stress sendiri. Sampai akhirnya dia memutuskan utk pisah dengan saya walau berlinang airmata.

    Skg sy mau bertanya khususnya kepada kalian yg masih rasis, kepada orangtua2 yg msh rasis :
    1. Apakah kalian tega melihat anak gadis kalian menderita dan terpaksa membohongi hatinya sendiri hanya demi nenuruti kalian dgn satu kata Ras?
    2. Seberapa pentingnyakah Ras sehingga nurani dan ajaran welas asih ke semua makhluk ciptaan Tuhan (bukan hanya welas asih ke sesama ras loh ya diajarinnya) kalian abaikan?
    3. Apakah dengan Ras bisa membawa manusia ke dalam surga?

    No offense, untuk renungan kita saja. Semoga ke depannya sikap Rasisme seperti ini sudah hilang. Pakai hati nurani kalian, jangan menilai kami kaum pribumi semuanya brengsek.

    Jika ada yg mau share atau diskusi lebih lanjut sy terbuka dan silahkan menghubungi sy via email : grace.suhartomo@yahoo.com

    Salam Bhinneka Tunggal Ika

    Perbedaan itu indah jika kita bisa bersatu!!

    BalasHapus
  40. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  41. Terimakasih buat penulis, boleh juga berbagi pengalaman saya, saya suku batak tapi pernah punya hubungan yg sangat baik dengan orang2 tionghoa, termasuk menjalin hubungan pacaran dengan etnis tionghoa, sejak kecil saya bersekolah di sekolah mayoritas tionghoa di kota kecil Kisaran, Sumut, saya melihat orang2 tionghoa disana berbaur akrab dengan etnis lokal lainnya, mulai dari yang (maaf) miskin sampai kaya, ketika beranjak besar saya pindah ke kota medan, dikota ini mulai saya lihat adanya kesenjangan antara orang2 tionghoa dan etnis lokal, mulai dari tidak mau menggunakan bahasa indonesia saat berkumpul sekalipun dengan teman2 yg bukan tionghoa dan sejenisnya, jadi saya menilai mereka itu hanya sebagian kecil oknum yang belum bisa menikmati persatuan, saya lancar berbahasa batak, tapi saya tidak akan pakai kpd teman2 batak saya ketika ada teman tionghoa saya, dilain itu saya pernah mendengar pengakuan teman tionghoa (mantanpacar) saya sendiri bahwa mereka dilarang berteman dengan orang2 pribumi, tapi dia sendiripun tidak suka dengan aturan orangtuanya, mungkin butuh waktu yg lebih lama lagi agar semua etnis saling membaur dan tanpa melihat identitas suku di negara kita ini.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  42. Saya setengah Tionghoa campuran Palembang dan teman saya justru banyak yg pribumi asli murah itu Palembang Jawa Batak Padang dll.
    Kenapa? Karena pernah dulu 'mencoba' berteman dengan orang cina asli gak kuat saya mulai dari gaya hidup yg sedikit wow sampai saya pernah di cemooh ketika saya mau masuk universitas pelita harapan yg rata2 memang asli cina bahkan ada yg sampai bawa2 agama dan mengatakan saya Tionghoa siluman alias campuran sejak saat itu di pelita harapan saya dan 4 teman saya kebetulan kami semua cina blasteran pribumi dan kami semua muslim memutuskan untuk tidak bergaul dengan cina asli dikampus kecuali memang ada yg mau ajak gabung baur duluan kita welcome saja.
    Jadi intinya memang tidak semua orang Tionghoa di Indonesia seperti itu dari 100% paling ada sekitar 40% yg mau berbaur dgn pribumi asli dan dari total 40% itu bisa jadi 70% adalah saya cina blasteran pribumi.sekian terimakasih.

    BalasHapus

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com