Angkot dan Kebhinnekaan

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal


“Tujuh-lima, tujuh-lima,” ujar sang supir. Satu per satu naik hingga genap 14 dan penuh. Tengoklah para penumpang yang duduk di kanan kirimu. Berapa yang berkalung salib, berkerudung, bermata sipit atau berkulit hitam? Kadang kita tak sadar bahwa penumpang angkot adalah miniatur Indonesia.

Lihatlah mereka semua berbagi sempit yang sama. Bila ada yang membawa barang bawaan lebih, penumpang lain bersimpati dengan bergeser, dan membantu keluarkan barang bila empunya turun nanti. Semuanya, tanpa perlu kontrak apa-apa, sepakat saling tolong. Juga, tak perlu ada yang ditolak hanya karena dia menyembah Tuhan yang beda, atau tak menyembah Tuhan sama sekali.

Tujuan penumpang pun berbeda-beda. Ada yang menuju BIP, Braga atau stasiun. Mereka bayar sesuai jarak tempuh, juga sesuai kemampuan. Di dalam perjalanan, pasti ada persinggungan kaki. Namun itu bukan masalah karena semua sepakat damai. Tak mau bikin ribut yang mengganggu perjalanan.

Sepanjang perjalanan dari Gede Bage ke Stasiun pula, kita disuguhkan berbagai kejadian. Saat ada lampu merah, semua menunggu. Saat sang supir rem mendadak, semua ikut bergoyang. Saat terik begitu hebat, semua berkeringat. Tak ada yang diperlakukan berbeda. Semua tetap jadi diri sendiri, diterima sebagai dirinya.

Begitulah seharusnya Indonesia ini, memakai logika angkot. Saat semua orang apa pun latar belakangnya diterima sebagai penumpang. Di saat semuanya berbagi ruang dan gerah dalam kendaraan yang sama. Tak ada yang perlu dikucilkan atau diistimewakan. Begitu pulalah sepatutnya sang presiden, eh supir, melayani seluruh penumpangnya, siapa pun, dari manapun, ke tujuannya masing-masing.

Ah saya dapat ide, barangkali untuk belajar mengurus negara warna warni ini, presiden kita perlu naik angkot sekali saja?

*Terinspirasi saat di angkot
0

I'm Another You - Sebuah Filsafat Manusia (4)

Oleh  Clara Tobing / @lalatobing



(Sebelumnya di bagian 1, bagian 2 dan bagian 3)

KONKLUSI

Pemahaman terhadap ruang gerak individualitas ini terkait dengan tercipatanya keadilan dalam relasi sosial antar manusia. Makna keadilan selalu terkait dengan orang lain. Sikap adil atau tidak menyangkaut perlakuan kita terhadap orang lain. Keterarahan terhadap orang lain ini merupakan hakikat dari keadilan. Sikap adil terkait dengan pengakuan terhadap nilai-nilai mendasar yang melekat didalam diri seseorang seperti keunikan, pikiran, aspirasi serta segala kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya. Selain itu sikap adil juga terkait dengan penghindaran diri dari kesewenang-wenangan. Orang yang adil adalah dia yang tidak bertindak sewenang-wenang. Disamping itu ada pengakuan terhadap kesederajatan individu.11

Manusia yang menghayati kemanusiaan adalah manusia yang mengerti bahwa orang lain adalah manusia, yang mempunyai nilai-nilai dasar dan eksistensi seperti dirinya sendiri. Penghormatan etrhadap orang lain, berarti juga penghormatan terhadap dirinya sendiri, dan lebih jauh, adalah penghormatan bagi kemanusiaan.

Demikianlah, penghayatan terhadap nilai-nilai kodrati manusia merupakan landasan penghormatan terhadap orang lain. Dengan adanya penghormatan terhadap orang lain, relasi sosial yang terjalin akan baik adanya, dan niscaya, akan menciptakan sistem keadilan. Individu dengan penghayatan inilah yang seharusnya mampu menciptakan suatu masyarakat yang dapat saling menghormati satu sama lainnya.

______________

1 Kasdin Sihotang, Filsafat Manusia; Upaya Membangkitkan Humanisme, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2009, hal 23

2 Ibid, hal 23-24

3 Ibid, hal 74-76

4 Ibid, hal 82-83

5 Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat:Manusia Paradoks dan Seruan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2004, hal 86

6 Kasdin Sihotang, op cit, hal 33-34

7 Adelbert Snijders, op cit, hal 92

8 Kasdin Sihotang, op cit, hal 33-34

9 Adelbert Snijders, op cit, hal 92

10 Lihat Bab 2, Dasar Teori, Filsafat Manusia atau Humanisme, Konsep Manusia Universal

11 Kasdin sihotang, op cit, hal 118-119

 
0

I'm Another You - Sebuah Filsafat Manusia (3)

Oleh Clara Tobing / @lalatobing

 

(Sebelumnya di bagian1, dan bagian 2)

ii. Nilai-Nilai Kodrati Seorang Manusia

Nilai-nilai kodrati adalah nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Dalam tulisan ini, nilai-nilai tersebut adalah individualitas setiap manusia. Setiap manusia mempunyai individualitas dan keunikannya yang khas, yang tidak bisa dipaksakan agar sama satu sama lainnya. Inilah yang membentuk eksistensi yang berbeda bagi tiap manusia.

Individualitas manusia harus dipahami sebagai individualitas yang berbeda dengan mahluk lainnya. Mahluk seperti binatang dan tumbuhan juga dapat dikatakan mempunyai individualitas atau keunikan tersendiri dengan mengadakan kualifikasi. Kualifikasi individualitas mahluk lainnya hanya bersifat biologis semata. Pembedaan biologis ini hanya berkaitan dengan perbedaan fisik mahluk satu dengan mahluk yang lainnya.

Sedangkan bagi manusia, individualitas ini terkait dengan dirinya yang benar-benar berdiri sendiri. “Diri” manusia ini merupakan sumber dari kegiatan dan tindakannya. Manusia berdiri sendiri, bertindak sendiri, bertanggung jawab sendiri. Dengan kata lain, individualitas manusia terkait dengan identitasnya sebagai “person”.5

Keunikan individualitas manusia sebagai person berasal dari kerohaniannya. Aspek rohani individualitas manusia ini terkait dengan sesuatu yang disebut sebagai “jiwa”. “Jiwa” manusia membuatnya sadar akan siapa dirinya sendiri. Kesadaran akan dirinya sendiri ini dimunculkan juga dengan relasi manusia dengan sesamanya, serta relasinya dengan sesuatu yang lebih tinggi darinya yaitu Tuhan. Relasi tersebut semakin membuat manusia mengerti, bagaimana posisi dia sebagai pribadi dalam suatu kesatuan alam semesta.

Efek penghayatan jiwa yang berbeda pada tiap manusia memunculkan manusia yang berbeda dengan manusia yang lainnya. Manusia bukan sekedar pengulangan dari jenisnya yang terdahulu. Memang, bila dilihat dari unsur jasmaninya, manusia yang satu bisa sama dengan yang lain apabila kita melihat dari segi warna kulit, bentuk tubuh, ras dan ciri-ciri fisik lainnya. Pada saat “jiwa” ini dimaknailah, individualitas manusia kemudian terlihat, dan pribadi manusia sebagai person yang unik, berbeda satu sama lainnya baru dapat dimaknai.

Individu bagi manusia berbeda dengan invidu pada mahluk. Pada manusia,individu menunjukkan keutuhan aspek rohani dan aspek jasmani, kesatuan dan kutuhan badan dan jiwa. Manusia mempunyai derajat kesatuan. Inilah yang membentuk hakikat dan martabat manusia.6 Individualitas memberikan wajah bagi setiap kepribadian manusia yang berbeda-beda. Kepribadian setiap orang yang berbeda itu terlihat dalam gerak geriknya, wajah, serta tingkah lakunya.7

Inilah nilai-nilai kodrati yang mendasari setiap manusia. Bahwa pada dasarnya manusia itu berbeda. Jiwa manusia membuatnya unik, tidak bisa disamakan seperti barang mekanis satu sama lainnya. Dan tidak dapat dikualifikasikan secara biologis seperti hewan dan tumbuhan. Pemahaman manusia akan segala sesuatunya ikut menumbuhkan “jiwa” rohaninya. Dalam humanisme, individualitas inilah yang harus dihormati. Individualitas yang berbeda satu sama lainnya harus dipahami sebagai upaya manusia untuk mewujudkan eksistensinya. Penghargaan terhadap individualitas adalah penghargaan terhadap manusia itu sendiri.

Individualitas manusia ini terkait dengan dirinya yang benar-benar berdiri sendiri. Efek penghayatan jiwa yang berbeda pada tiap manusia memunculkan manusia yang berbeda dengan manusia yang lainnya. Manusia bukan sekedar pengulangan dari jenisnya yang terdahulu. Manusia mempunyai derajat kesatuan. Inilah yang membentuk hakikat dan martabat manusia.8 Individualitas memberikan wajah bagi setiap kepribadian manusia yang berbeda-beda. Kepribadian setiap orang yang berbeda itu terlihat dalam gerak geriknya, wajah, serta tingkah lakunya.9 Inilah nilai-nilai kodrati yang mendasari setiap manusia. Bahwa pada dasarnya manusia itu berbeda.10

(Selanjutnya di bagian 4
0

I'm Another You - Sebuah Filsafat Manusia (2)

Oleh  Clara Tobing / @lalatobing



(Sebelumnya di bagian 1)

i. Kebebasan

Konsep kebebasan merupakan batu pijakan dasar dalam konsep humanisme. Kebebasan adalah hal mendasar bagi manusia dan merupakan syarat penting bagi humanisasi. Apa itu kebebasan? Kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya, yang berkaitan dengan: penyempurnaan diri; kesanggupan untuk memilih dan memutuskan; dan kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan. Kebebasan berkaitan dengan potensi manusia dalam melakukan pilihan-pilihan untuk menentukan arah hidupnya.

Kebebasan juga mencakup kesempatan untuk mengungkapkan dan mewujudkan dimensi-dimensi mendasar dari hidup sebagai manusia seperti kebebasan memeluk agama, menentukan hidup dan berpolitik. Kebebasan semacam ini diartikan sebagai hak-hak dasar asasi manusia, yang merupakan pengakuan terhadap eksistensi manusia. Dalam keadaan dimana hak-hak ini dibungkam, disinilah terjadi ketiadaan kebebasan.3

Kebebasan berarti memberikan ruang gerak bagi manusia untuk mengembangkan kehidupannya. Pribadi seseorang tidak dapat berkembang apabila ia tidak mempunyai ruang gerak berupa kebebasan untuk mengungkapkan diri. Walaupun begitu, mengutip M. Sastrapratedja, kebebasan manusia adalah kebebasan dalam situasi. Artinya, manusia mewujudkan diri bersama orang lain, dalam kebudayaan yang telah diciptakan orang lain dan dirinya, dalam kondisi genetik yang diwarisi dari orang tuanya, dalam ruang yang membatasi geraknya dan dalam ruang sosial tempat ia berada bersama dengan orang lain.

Kebebasan bersituasi harus dipahami sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Semakin tinggi tanggungjawab manusia dalam menjalankan tindakan bebasnya, semakin bermutu kehidupan yang dia bangun. Dalam situasi ini, manusia telah mampu menjembatani antara intelektualitas dengan kehendaknya, agar dapat berjalan beriringan. Jadi, kebebasan merupakan dasar untuk menjadi manusia yang bermutu. Kebebasan adalah dasar atas tindakan dan dunia seorang manusia.4

(Selanjutnya di bagian 3 dan  bagian 4)
 
0

I'm Another You - Sebuah Filsafat Manusia (1)

Oleh Clara Tobing / @lalatobing



In Lak’ech Ala K’in adalah bagian dari kebijaksanaan kuno suku Maya yang berarti “I’m another you”, saya adalah kamu yang lain. Melalui apa yang disebut suku Maya sebagai “the way of life ini masyarakat Maya menyampaikan sebuah salam sebagai bentuk penghormatan terhadap manusia yang lainnya. Salam ini merupakan sebuah bentuk kesatuan, persatuan, dan penghargaan terhadap bentuk kehidupan manusia yang lainnya. Dengan kata lain, ini adalah bentuk dari kemanusiaan yang universal.

Konsep ini bukan merupakan konsep kuno jaman dahulu kala yang ketinggalan jaman, dan bukan merupakan suatu konsep yang hanya hidup pada zaman jaman pra-agama saja. Konsep ini merupakan konsep universal yang menjadi corner stone bagi setiap komunitas, dan lebih jauh lagi, bagi setiap agama.

Saya rasa semua agama sudah sampai pada pernyataan bersama bahwa ajarannya tidak bertujuan untuk menyebarkan kebencian, tetapi justru cinta kasih. Setiap ajaran agama diajarkan untuk memberikan penghormatan terhadap sesama, sebagaimana dia menghormati dirinya sendiri.

Ini membuktikan bahwa kemanusiaan bukanlah konsep yang harus dimonopoli oleh agama dan ideologI agama tertentu. Permasalahannya, kenapa kemanusiaan dan cinta kasih harus dimonopoli dalam batas-batas pengertian satu agama saja?

Dalam tataran teoritis, penghargaan terhadap jiwa kemanusiaan dapat kita pelajari melalui filsafat manusia. Secara sederhana, filsafat manusia adalah filsafat tentang manusia. Filsafat manusia berusaha mencari makna tertinggi dari manusia. Pencarian ini bertujuan untuk menemukan konsep mendasar dari manusia. Tugas dan fungsinya adalah mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya serta menghadapinya sebagai suatu keseluruhan.

Objek dari penelusuran filsafat manusia adalah hal-hal yang ada dibalik yang kelihatan, yang sangat menentukan eksistensi manusia.1 Jadi, objek kajian filsafat tidak hanya sekedar apa yang telihat dari luar seorang manusia belaka seperti warna kulit, ras dan ciri-ciri fisik semata, melainkan apa yang menentukan keberadaan manusia tersebut. Apa yang mendefinisikan jati diri seorang manusia. Apa yang membuat manusia itu benar-benar manusia. Eksistensi ini diwujudkan dalam aspek-aspek mendasar yang bersifat metafisis dan spiritual tentang manusia itu sendiri. Untuk mengerti mengenai eksistensi ini, filsafat manusia mengkaji pengalaman-pengalaman manusia yang menyangkut dua hal : 

a. Pertanyaan tentang manusia dan alam

Apakah esensi kebenaran? Apakah esensi manusia itu? Apakah esensi alam semesta itu?

b. Proses pemahaman diri

Menangkap manusia secara utuh dengan memadukan pengalaman dan pengetahuan kedalam suatu pandangan yang lengkap.

Tujuan dari pertanyan-pertanyaan tersebut adalah menemukan konsep manusia yang universal.2 Apa yang universal dari konsep seorang manusia? Universalitas itu adalah kebebasan dan nilai-nilai kodrati yang dianut setiap manusia.

(Selanjutnya di bagian 2, bagian 3 dan bagian 4)
0

Minum Susu Murni Bareng

 Tujuh gelas susu murni dan teh jadi saksi perbincangan ini. Jumat (21/6) malam, selepas rapat untuk bakti sosial ke panti asuhan, mereka memutuskan minum susu murni bersama di kawasan Lengkong, Bandung. 

Prayudi dan Rio dari komunitas lintas iman, yang lain adalah pemuda Gereja Kristen Indonesia (GKI) Guntur. Angin malam bukan soal, sebab tawa canda telah menghangatkan semuanya.

 


Dari bawah kiri, searah jarum jam : Otniel, Rinaldi, Prayudi, Jun, Debora dan Devi


Otniel (kristiani) dan Rio (muslim).
0

Absen

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riotuasikal



Kemana siswa-siswaku ini? Heran sekali, di penghujung Maret ini kelasku tak pernah penuh. Selalu saja ada yang tak masuk. Bergantian, berturut-turut, tak beri kabar. Bagaimana mau jadi generasi bangsa bila sekolah saja ogah-ogahan?

Aku benarkan posisi jilbabku sebelum membuka buku absen. Aku periksa kolom kehadiran tiap siswa. Kemarin Ayu dan tiga siswa lain bolos tanpa kabar. Hari ini tiga siswa tadi bolos lagi. Dasar.

“Frans, Gilbert sama Cindy ke mana? Sudah bolos dua hari.”

Murid hening.

“Van, kamu tahu ke mana temanmu?”

“Eh, mereka bilang Paskah, Bu.” Jawab Ivan hati-hati.

“Loh bukannya tanggal merahnya besok?”

“Kata mereka Paskah dari hari ini, Bu. Sampai Minggu.”

Aku hanya diam sambil cemberut. Diam-diam aku menambah tanda alfa pada kolom absen siswa Kristen itu. Langsung dua hari alfa, kecuali Jumat yang memang tanggal merah. Aku lanjutkan menyusuri sudut kelas. Ada Ayu yang kemarin bolos.

“Ayu, kemarin kamu ke mana? Kamu belum kumpulkan PR.”

“Itu, Bu, kemarin Ayu Galungan.”

“Galungan? Agama apa kamu?” Kataku sedikit membentak.

“Hindu,” ucap Ayu lalu menunduk malu.

Aku mendengus tanda kesal.

“Bu, Ayu mau minta maaf. Mestinya kemarin Ayah Ayu minta izin sama Ibu.” Ayu jeda. “ Tapi kata Ayah, Bu Guru pasti maklum. Ayu bawa PR-nya hari ini, Bu”

“Tapi kan bukan tanggal merah, Ayu. Mestinya kamu tetap sekolah dong.”

“Ayu...” kata Ayu amat pelan. Hampir tak terdengar. “Ayu mesti ke pura, Bu.”

Aku hanya bisa diam dan merenung. Egoisnya aku yang menilai mereka bolos karena melaksanakan agamanya. Ini keberuntunganku lahir sebagai muslim di negara mayoritas muslim. Apa kabar saudara muslimku yang minoritas di seberang sana? Di negara yang Idul Fitrinya bukan tanggal merah. Bisakah mereka salat Idul Fitri tanpa disebut bolos? Aku tak boleh mau menang sendiri.

“Ya, sudah..” kataku dengan nada lunak. “Sekarang, Ayu, coba kamu ke depan,” kataku lagi. “Boleh kamu ceritakan apa itu Galungan?”

Aku bertepuk tangan mengajak siswa sekelas mengikuti. Saat Ayu melangkah malu-malu, diam-diam aku membubuhkan type-x ke tanda-tanda alfa. Kutulis izin. []
0

Siapa Bilang Pluralisme = Jahat?

Oleh Rio Eka Kusuma / @RioEkaKusuma
 
 
 
Menurut asal katanya pluralisme berasal dari bahasa inggris pluralism. Definisi pluralism adalah : "In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation." Atau dalam bahasa Indonesia : "Suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan)."

Manusia sebagai makhluk Tuhan tidak bisa dipisahkan dari keberagaman dan pluralitas. Keberagaman itu sendiri juga tidak bisa dipisahkan dari kemanusiaan dan ini sudah menjadi ketentuan Tuhan. Keberagaman dan pluralitas inilah yang menjadi keindahan bagi kemanusiaan itu sendiri. Namun kekerasan bernuansa agama di negara ini telah mengoyak kemanusiaan dengan keberagamannya itu. Percuma saja jika Presiden Amerika Serikat memuji Indonesia karena demokrasi yang digembar-gemborkannya jika kekerasan bermotif agama masih kerap terjadi di negara ini.

Tetapi saya tekankan dalam pandangan saya pribadi bahwa pluralisme tidak mengesahkan pula tentang atau terhadap ajaran agama yang dibelokkan. Tidak, saya tidak sama sekali memasukkan yang seperti itu.

Pertikaian antar umat beragama sebetulnya bukanlah warisan sejarah Indonesia. Diakui atau tidak Indonesia sudah plural sebelum kata plural itu masuk ke Indonesia. Jauh kata plural Indonesia merambah Indonesia, masyarakat kita sudah plural, sudah majemuk dari segala sisi. Bahkan dalam kitab Sutasoma ada kata bhinneka tunggal ika yang berarti sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah majemuk tidak hanya dalam berkeyakinan tetapi juga tata laku kehidupan, yang menyatukan dari keragaman tersebut adalah kesatuan wadah berupa tanah air yang menjadi tempat tinggal mulai dari lahir sampai mati.

Kekerasan agama sebenarnya juga tidak terkait pada diri agama itu sendiri, sebaliknya hal itu banyak disebabkan oleh faktor lain yang berasal dari luar agama tersebut. Pada dasarnya agama apapun diturunkan ke bumi untuk menciptakan kedamaian diantara umat manusia, lalu mengapa banyak pertumpahan darah yang mengatasnamakan agama dan Tuhan? Begitulah manusia yang seringkali salah memahami Tuhan. Banyak hal yang mereka kira perintah Tuhan, ternyata bukan. Begitu juga sebaliknya yang mereka kira bukan ajaran Tuhan, ternyata itulah perintah Tuhan. Sikap salah memahami Tuhan inilah yang melahirkan intoleransi dan eksklusivisme.

Eksklusivisme yang merupakan suatu paham yang menganggap kebenaran hanya ada dan berada pada agama yang dianutnya sedangkan agama lain dicap sesat atau kafir telah membentuk suatu paham keagamaan yang tidak bisa mengembangkan dialog dan toleransi, dan telah membentuk bagian kelam dalam sejarah umat manusia yaitu perang dan konflik. Jika dilihat dari segi sosiologis, klaim kebenaran dan keselamatan agama itu hanyalah memicu terjadinya konflik sosial dan politik. Dalam upaya mengatasi keadaan itulah kemudian muncul konsep pluralisme dan inklusivisme yang menjunjung tinggi kemajemukan dan kesetaraan, yang meniadakan superioritas antar ras, etnis, suku, atau kelompok sosial lainnya.

Dengan adanya paham agama yang plural, inklusif dan toleransi, maka akan disadari bahwa semua agama adalah sebuah jalan yang berbeda namun tetap menuju Tuhan Yang Maha Esa. Dalam usaha mewujudkan sikap pluralisme dan inklusivisme ini memang diperlukan adanya suatu sikap terbuka dengan setiap pandangan agama lain. Pluralisme dan inklusivisme ini lebih menjanjikan dalam upaya menciptakan kehidupan manusia yang lebih baik. Inti dari kedua paham ini sama: menghentikan pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan dan menciptakan kedamaian di dunia ini. Meskipun pluralisme menuai pro dan kontra terutama di kalangan agamawan, kaum pluralis sendiri tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Sebab para pluralis ini pun menyadari bahwa masih ada sebagian masyarakat yang memegang teguh ideologi leluhurnya meskipun ideologi itu jauh dari sikap-sikap toleran.

Mengembangkan masyarakat yang toleran tidaklah mudah, sebab dalam sejarah manusia, sejarah intoleranlah yang lebih dominan. Peristiwa demi peristiwa dari masa ke masa tiada henti menampilkan tindakan intoleransi dan hal tersebut turut mempengaruhi agama yang karena keadaan demikian sejarah agama-agama pun menjadi sejarah panjang intoleransi. Karena itu, membangun masyarakat yang penuh toleransi dengan paham pluralisme harus menjadi tugas utama dalam upaya menciptakan perdamaian antar umat beragama.

Saya percaya bahwa dengan pluralisme, inklusivisme dan demokrasi akan menciptakan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan, perdamaian, kebebasan, dan kesetaraan umat manusia dalam keberagamannya.
0

Perdamaian Harus Vokal

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal


Dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Bandung yang 2,5 juta, anggota FPI itu tidak sampai 1 persennya. Sayang media kita terlalu banyak memberi ruang pada mereka. Sehingga, di televisi dan koran, keberadaan mereka seolah banyak. Aksi kekerasan dan suaranya pun dianggap sebagai satu-satunya yang mewakili umat Islam.

Suara-suara yang alergi perbedaan ramai pula di dunia maya. Tengoklah situs seperti hidayatullah.com, voa-islam.com dan arrahmah.com. Media-media ini berisi tulisan yang membisikkan kebencian, permusuhan juga kekerasan. Lewat jurnalisme dasar saja, yakni objektif, netral dan klarifikasi, mereka tidak lulus uji.

Media massa besar pun ikut ramai dengan perkelahian. Sesak dengan berita yang bikin gerah. Ada demo FPI yang menuntut pembubaran Ahmadiyah, diberitakan. Ada acara Hizbut Tahrir yang menentang demokrasi, eh, malah diberi siaran khusus. Apa yang ada di pikiran pemirsa dan pembaca yang menyimak berita itu?

Padahal, menurut Endy Bayuni, mantan pemimpin redaksi Jakarta Post, demo anti perbedaan tidak perlu diliput. Sebab mereka hanya memanfaatkan media untuk mendapat popularitas. Beritakan mereka hanya jika melanggar hukum. Sekalian kawal proses hukumnya hingga vonis, supaya jera.

Sejak kita tahu bahwa media begitu efektif menyampaikan ide, di sinilah kita sadar bahwa para pecinta damai kalah gesit. Media massa yang berperspektif damai masih bisa dihitung jari, misalnya satuharapan.com. Situs yang promosikan keberagaman pun tak lebih dari website Setara Institute, The Wahid Institute dan CRCS yang semuanya ditulis terlampau akademik. Aksi damai untuk keberagaman pun tak pernah jadi headline koran.

Bersama sudah kita tahu bahwa suara permusuhan itu masif, dan suara perdamaian itu samar. Demikianlah yang terjadi saat ini. Selanjutnya, saya tak mau hanya menampilkan masalah dan sudah. Saya ingin mengajak semua memulai, sekecil apapun, sebuah langkah.

Saya percaya nurani masih memegang kendali. Saya yakin masih banyak orang yang ingin harmoni. Media massa besar hanya terlalu malas untuk meliputnya, sebab itu, mari kita beri mereka kesempatan bicara. Mari kumpulkan suara-suara persahabatan, kebersamaan dan perdamaian. Terjemahkan pesan itu ke bahasa yang paling gampang dan gamblang. Bahwa alih-alih menciptakan permusuhan, perdamaian itu lebih mudah dan menyenangkan. Sebarkan ke semua orang yang selama ini takut dan diam. Sekali lagi, perdamaian harus vokal. ***
0

Membangkitkan Tionghoa Indonesia (4)

Oleh Viona Wijaya / @vionawijaya

(Baca dari  Bagian 1, Bagian 2 dan Bagian 3)

Teman-teman Tionghoa-Indonesia di Perayaan Peh Cun 2013, di Lembang, Bandung

Bulan Januari hingga Februari 2011 saya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) di mana para mahasiswa hidup bersama dengan masyarakat desa dan mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan desa tersebut. Saat itu, saya mendapat Desa Sukamandi di Subang sebagai tempat ‘bertugas’. Di sana saya hidup dengan ke-22 rekan mahasiswa lain, dan hanya sayalah yang Tionghoa.

Di sana, sama seperti rekan lainnya, saya juga mendapat tugas menyapu dan mengepel rumah kontrakan, mencuci piring, dan tentu mencuci baju sendiri. Di sinilah terjadi sesuatu kejadian menarik. Seorang kawan yang sama-sama berasal dari Fakultas Hukum – di mana ia sudah berteman dengan saya cukup lama – tercengang melihat saya melakukan ‘tugas-tugas rumah tangga’ itu tanpa menunjukkan rasa enggan ataupun jijik.

Dari mulutnya, kata-kata ini meluncur, “Gila ya, saya kira kamu gak akan mau ngepel dan nyuci.” Saya tanya mengapa dia berpikir demikian, “Karena kamu kan orang Tionghoa!” Ia tertawa lepas, “Dari dulu saya berpikir kalian ini kan orang-orang kaya, mana bisa kerjain yang kayak beginian.”

Saya tercengang. Ah, begitu rupanya pikir mereka selama ini! Dan asumsi-asumsi keliru macam itu baru runtuh, luluh lantak dengan tanah, karena seorang perempuan Tionghoa yang mengepel lantai di depan matanya sendiri? Celaka benar, pikir saya. Di luar sana berapa banyak pikiran keliru tentang orang Tionghoa yang tetap ada karena tak ada orang-orang Tionghoa yang bertindak nyata di depan mereka dan menunjukkan itu tidak benar?

Demikian pula kawan-kawan di kampus seringkali berdecak ketika mendengar saya bicara masalah kebangsaan. Sambil tersenyum heran mereka suka berkata, “Baru kali ini saya ketemu Tionghoa seperti kamu.”

Setiap kali saya dengar kata-kata itu, hati saya gemas. Wai, satu hari nanti, mudah-mudahan kalimat-kalimat macam itu tak lagi terdengar, karena orang Tionghoa Indonesia memutuskan untuk ikut berjuang bagi bangsanya. Dalam hati saya ada keyakinan bahwa di luar sana juga ada anak-anak muda seperti saya, yang hatinya bergelora untuk membangun Ibu Pertiwi, hanya kami belum bertemu saja. Jumlah kami mungkin sekarang masih sedikit, tapi saya punya mimpi – yang akan saya kerjakan sampai menjadi kenyataan – satu hari nanti tak lagi demikian.

Anak-anak muda Tionghoa harus mulai mengubah gaya hidupnya. Kita harus mulai celik dengan permasalahan bangsa, tidak lagi menjadi ‘asing’ di tanah air sendiri. Semuanya dimulai dari keputusan untuk mau mencintai negeri ini, untuk mau memikul tanggungjawab membangun bangsa. Dari keputusan lahirlah tekad. Tekad yang kuat akan membuat kita tak berhenti sekalipun rintangan dan tantangan menghadang di depan. Bangun bangsa dengan apa yang ada padamu. Ketajaman berpikir, kejituan menyelesaikan permasalahan, keuletan bekerja, kepiawaian bernegosiasi dan mengelola keuangan, biar semua itu jadi persembahan yang harum untuk bangsa Indonesia!

Sama seperti John Lie, Yap Thiam Hien, Soe Hok Gie, mudah-mudahan nama kita mengharum ke seantero negeri, meninggalkan jejak-jejak keringat, usaha, pemikiran bagi kemajuan dan kebaikan tanah air Indonesia. Dan biar dari generasi kita, lahir generasi kaum Tionghoa yang mengasihi Indonesia, yang tak pernah lagi mempertanyakan apakah ia Indonesia atau bukan.

Mata kami sipit, kulit kami kuning, tangan kami bekerja untuk Indonesia, kaki kami melangkah mantap ke tempat kami harus bekerja bagi Ibu Pertiwi. Kami Tionghoa, Tionghoa Indonesia!
Silakan kunjungi juga blog Viona Wijaya
0

Membangkitkan Tionghoa Indonesia (3)

Oleh Viona Wijaya / @vionawijaya

(Baca dari Bagian 1 dan Bagian 2)

Teman-teman Tionghoa-Indonesia di Perayaan Peh Cun 2013, di Lembang, Bandung

Saya tak menafikkan segala fakta yang dijabarkan pada permulaan tulisan ini. Adalah benar bahwa apa yang terjadi di masa lalu sangat meyakitkan. Saya, yang tidak mengalami peristiwa-peristiwa itu secara langsung memang tak akan memahami sakitnya, pedihnya luka yang tertorehkan di dalam hati. Saya sadar bahwa tak mudah bagi mereka untuk mengampuni republik ini apalagi memberi diri bagi kemajuannya (meski ada juga tokoh-tokoh yang berhasil melakukannya). Maka curahan hati saya ini ditujukan bagi generasi saya, anak muda Tionghoa yang mengecap rangkulan hangat era reformasi.

Bagi saya, tak ada alasan bagi anak muda Tionghoa Indonesia untuk menarik diri dari tanggungjawab membangun negeri. Benar bahwa pada kenyataannya tindakan-tindakan diskriminatif masih ada, label negatif terhadap kaum Tionghoa Indonesia juga masih bergaung kuat. Namun ini tidak bisa dijadikan pembenaran bagi kita untuk acuh terhadap bangsa ini.

Lahir di Indonesia, besar di Indonesia. Hasil buminya kita nikmati, semarak alamnya kita cintai. Kita alami masa-masa baik maupun masa-masa sukar di atas tanah ini. Kita mengenal kebaikan-kebaikan negeri maupun keburukan-keburukannya. Kitalah yang mengalami semrawutnya permasalahan negeri, masakan orang lain yang bertanggungjawab untuk menyelesaikannya? Tak masuk akal bukan?

Maka memilih untuk mundur adalah sebuah kekonyolan dan kebodohan. Memilih hidup aman dengan tinggal di luar negeri adalah sebuah tindakan yang memalukan. Konon orang Tionghoa dikenal pekerja keras, ulet, tekun, tak akan berhenti sebelum berhasil. Bolehkah sifat kebanggaan kita ini tak hanya kita terapkan dalam hal mengumpulkan kekayaan tapi juga dalam hal berjuang bagi negeri?

Bagi saya, tembok pertama yang harus diruntuhkan anak muda Tionghoa Indonesia saat ini adalah cangkang-cangkang ketakutan dan keacuhan yang seringkali mewujud dalam perilaku mendiskriminasi diri sendiri. Seperti telah dipaparkan di atas, tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam melihat bangsa ini terseok-seok dirundung rupa-rupa masalah. Orang Tionghoa Indonesia memiliki tanggungjawab membangun bangsa bersama-sama dengan orang Batak, orang Sunda, orang Jawa, orang Dayak, orang Maluku, orang Papua, dan orang-orang dari suku bangsa lainnya.

Setelah berhasil meruntuhkan dinding pertama, barulah kita bisa meruntuhkan dinding berikutnya. Anak muda Tionghoa harus bergerak untuk mendobrak setiap label dan stigma yang dilekatkan terhadap dirinya sejak lama. Sebagai akibat dari rupa-rupa kebijakan yang disebutkan tadi misalnya, kaum Tionghoa cenderung bergaul dengan sesamanya saja, eksklusif dan sombong. Kaum Tionghoa dianggap hanya memikirkan bagaimana menambah harta kekayaannya namun abai terhadap permasalahan sosial. Tanpa adanya insan-insan yang mau keluar dari zona nyamannya, label-label itu akan tetap terlegitimasi sebagai kebenaran. Orang-orang di luar kaum Tionghoa Indonesia akan tetap tinggal dalam asumsi-asumsinya yang seringkali keliru. Pandangan yang keliru inilah yang berpotensi sebagai benih perpecahan di masa yang akan datang. Pembiaran terhadapanya bukanlah solusi. Asumsi macam apa yang saya maksud? Mari saya ceritakan sebuah kisah

(Bersambung ke Bagian 4)

Silakan kunjungi juga blog Viona Wijaya
0

Membangkitkan Tionghoa Indonesia (2)

Oleh Viona Wijaya / @vionawijaya

(Baca dari Bagian 1)


Teman-teman Tionghoa-Indonesia di Perayaan Peh Cun 2013, di Lembang, Bandung

Tak usah repot bertanya apa semua itu membuat kami menjadi Indonesia atau tidak (karena jawabannya sudah jelas tidak). Maka yang ada di hadapan kita saat ini adalah sekelompok anak muda Tionghoa Indonesia yang acuh terhadap bangsanya – Indonesia. Kemudian ada juga anak muda yang mewarisi sakit hati generasi sebelumnya – jumlah mereka tak terlalu besar dibanding yang acuh. Tapi dibanding kedua kelompok tersebut, jauh lebih kecil lagi jumlah mereka yang bisa dengan mantap mengatakan, “Kami mengasihi bangsa ini!”, yang mau berkata bangga, “Kami Tionghoa Indonesia!”

Alhasil Ibu pertiwi kehilangan potensi besar yang dimiliki kaum Tionghoa, khususnya anak-anak muda Tionghoa. Zaman telah berubah, era reformasi membuka peluang besar bagi orang-orang Tionghoa untuk terlibat aktif membangun bangsa, namun kaum Tionghoa tampak masih mengungkung diri di masa lalu – merasa tak diterima di negeri ini. Geliat kebangkitan beberapa kelompok Tionghoa Indonesia ada, tetapi lebih banyak yang memilih tetap ‘mati’.

Padahal jika kita menelusuri sejarah bangsa ini, jejak-jejak keringat, usaha dan pemikiran orang Tionghoa bagi kemajuan negeri tidak sulit kita temukan. Dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), misalnya, dari 60 anggota, terdapat ada empat orang etnis Tionghoa yang terlibat. Dalam Konstituante (badan khusus yang bertugas menyiapkan rancangan undang-undang dasar baru) setidaknya tercatat wakil-wakil dari Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) sejumlah enam orang. Di era reformasi, kaum Tionghoa pun turut ambil bagian: sebagai kepala daerah, sebagai anggota dewan, sebagai menteri, dsb.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kembali kita temukan jejak kaum Tionghoa. John Lie, seorang laksamana yang tak segan mempertaruhkan nyawanya demi Indonesia, menjadi legenda. Di usia 39 tahun, Ia berusaha menembus blokade Belanda demi menukar hasil bumi dengan senjata untuk republik Indonesia yang masih seumur jagung. Dikejar kapal Belanda, diberondong peluru, dibombardir bom, John Lie tak gentar. Mengepalai belasan kru yang masih belia (rata-rata berumur 21 tahun), Ia berjuang dengan apa yang Ia miliki demi bangsa Indonesia.

Dalam dunia hukum dan perjuangan penegakkan HAM di Indonesia,Yap Thiam Hien meninggalkan jejaknya yang tak akan lekang oleh waktu. Didorong oleh kepeduliannya terhadap kebutuhan masyarakat miskin akan keadilan, Ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum. Jasanya yang besar bagi republik ini membuat namanya dijadikan penghargaan bagi para pejuang hak asasi manusia.

Aktivis mana tak kenal nama Soe Hok Gie? Catatan hariannya yang kemudian dibukukan boleh dikatakan sebagai buku wajib bagi para aktivis. Tak dibatasi oleh fakta bahwa dia keturunan Tionghoa, Hok Gie bersama kawan-kawannya menggulingkan rezim Orde Lama yang tak kunjung membawa kebaikan bagi rakyat. Digertak, dia tetap maju. Suatu hari Ia diserempet mobil sambil dilempari kertas bertuliskan, “Cina = PKI, pulang ke negerimu!”, Hok Gie tetap maju terus.

Siapa lagi? Berikan saya sebuah kertas kosong dan saya bisa tuliskan nama demi nama, baik mereka yang dikenang seantero negeri maupun sosok-sosok sederhana yang membekas di hati masyarakat sekitarnya. Mereka sipit, kulit mereka kuning, mereka Tionghoa, Tionghoa Indonesia! Alih-allih melanggengkan perasaan ‘kami-tidak-diterima-di-negeri-ini’, mereka memilih untuk bertindak nyata, menggoreskan kisah hidup mereka dalam sejarah bangsa. Melalui jasa-jasanya, pesan mereka bergema, “Kami juga bagian dari bangsa ini!”

(Bersambung ke Bagian 3 dan Bagian 4)

Silakan kunjungi juga blog Viona Wijaya
0

Membangkitkan Tionghoa Indonesia (1)

Oleh Viona Wijaya / @vionawijaya 
 

Perahu hias di Perayaan Peh Cun 2013, di Lembang, Bandung

“Ha, yang ini pasti dari Hong Kong!” ujar seorang pria tua yang mengurus kegiatan kami hari itu. Saya dan seorang kawan tanpa sadar mengerutkan kening dan memrotes keras, “Bukan, kami dari Indonesia!” Orang Belanda itu buru-buru minta maaf atas kekeliruannya. Maklum, mata kami sipit dan kulit kami kuning. Ya, kami memang Tionghoa, Tionghoa Indonesia.

Tak terhitung berapa kali orang mengira kami peserta dari Hong Kong / RRC. Juga tak terhitung berapa kali orang berusaha berbicara bahasa mandarin dengan kami – dan kami berdua hanya melongo karena tak mengerti. Kejadian-kejadian selama kami mengikuti sebuah program pertukaran pelajar di Eropa menyadarkan kami bahwa kami adalah orang Indonesia, se-Indonesia-Indonesia-nya!

Seorang dosen pernah berkisah, orang kulit hitam di Amerika biasa menyebut dirinya dengan cara begini, “Kami Afro, Afro Amerika (Afro-Americans), kami orang Amerika.” Mereka tak mau disamakan dengan orang Afrika di benua Afrika, maka mereka tambahkan kata Amerika di belakang kata Afro, menunjukkan dirinya sebagai bagian dari Amerika. Secara tak langsung mereka berkata, “Kulit kami hitam, rambut kami keriting seperti kawan-kawan kami di Afrika tapi hati kami Amerika.”

Kondisi orang Tionghoa di Indonesia boleh dibilang berbeda 180 derajat dengan para Afro-Amerika. Sudah sejak lama, orang Tionghoa di Indonesia menghadapi krisis identitas. Di satu sisi mereka adalah warganegara Indonesia. Di sisi lain, ada banyak hal yang membuat mereka tak merasa menjadi bagian dari Indonesia. Untuk menyebut diri sebagai orang Indonesia terkadang terasa sulit. Bukan karena bentuk mata dan warna kulit kami berbeda. Tapi karena alasan-alasan lain yang akan dikemukakan di bawah ini.

Rupa-rupa kebijakan diskriminatif yang pernah diterapkan republik ini pada kaum Tionghoa Indonesia telah menggoreskan luka yang dalam. Belum lagi banyakknya kekerasan masif terhadap kaum Tionghoa yang terjadi di masa lalu, tahun 1946 di Tanggerang, tahun 1963 di Bandung, Sukabumi, tahun 1965 (pasca G30S), tahun 1967 di Kalimantan Barat, dan tahun 1998 di Jakarta – kekerasan-kekerasan ‘kecil’ tentu tak perlu dipertanyakan keberadaannya. Tak lupa juga kebijakan rezim Orde Baru yang melarang ekspresi bahasa dan budaya Tionghoa memberi pukulan besar bagi kaum Tionghoa Indonesia.

Daftar panjang kejadian-kejadian yang memilukan hati di atas melahirkan suatu generasi Tionghoa Indonesia yang pahit terhadap bangsa ini. Jangan heran kalau mereka acuh terhadap permasalahan bangsa. Bagi mereka, buat apa merepotkan diri dengan Indonesia. Bagi mereka cukuplah usaha tetap berjalan, kekayaan terkumpul sehingga keluarga bisa hidup aman dan bahagia.

Generasi ini kemudian melahirkan generasi kami – yang menghabiskan waktu hidup lebih lama di era reformasi daripada di era orde baru. Sedari kecil mereka mengingatkan kami agar berhati-hati dalam bertindak. “Jangan terlalu menonjol supaya nanti tidak dimusuhi,” nasihat ibu saya ketika saya memutuskan kuliah di Universitas Negeri. “Orang sini tidak suka sama kita,” ujar Ayah di pengungsian pada saya ketika kerusuhan tahun 1998 meletus.

Wai, sakit hati pun diwariskan pada anak-anak kecil yang polos. Alhasil, kami pun berpikir sama tentang Indonesia. Ah, bangsa ini bukan urusan kita, toh dari dulu mereka tak suka sama kita. Maka sejak kecil kami pun tumbuh bak orang-orang asing di tanah air sendiri. Hanya hafal lagu-lagu nasional wajib demi bisa menyanyi di upacara hari Senin, sekedar membeo guru melafalkan Pancasila supaya tak dimarahi, sekedar belajar Sejarah, IPS dan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) supaya nilai bagus dan bisa naik kelas.

(Bersambung ke Bagian 2, Bagian 3 dan Bagian 4)

Silakan kunjungi juga blog Viona Wijaya
0

Di Balik "Kita Ingin Harmoni"

Beginilah suasana pengumpulan testimoni. 

Kampus Unikom, 
Jumat, 14 Juni 2013




 GKI Kebon Jati, 
Kamis, 20 Juni 2013



0

Makan Sendiri Agamamu

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal



Hujan di sekitar Bromo sudah selesai. Langit berbintang terpampang. Badanku masih saja gemetaran.

Aku mengakui. Ikut ke gunung setelah begadang dua hari memang bukan ide bagus. Alih-alih mengambil banyak foto, aku malah meringkuk sendirian di dalam tenda. Tiga jam barusan aku tidur yang kedua. Kini aku sempatkan lihat api unggun yang tadi padam, kini sudah nyala lagi. Dua temanku dan satu orang lain sudah kembali dari berburu foto rupanya.

Ingin sekali aku bergabung bersama mereka. Namun badan ini tak bisa menampung keinginan. Dalam sendiri ini aku eratkan lagi syal di leher. Lalu memakai satu jaket tambahan. Meminum obat untuk kedua kali. Menghela napas. Terakhir, mengelap keringat yang sudah bercucuran. Aku cuma bengong melihat mereka yang bernyanyi riang diiringi gitar.

Seketika angin gunung menusuk sampai tulang. Ini mirip memegang es batu selama sepuluh detik. Hanya saja dinginnya di balik kulit. Linu dan ngilu kompak membuat hatiku meringis lagi. Baiklah, ini sudah waktunya makan. Aku harus minum obat lagi. Tapi ini tak semudah yang kuceritakan. Badanku semua kuyup oleh keringat dan akan tersentuh angin bila aku bergerak sedikit saja. Boro-boro pergi mengambil nasi, untuk berpikir jernih pun susah payah. Apa boleh buat, aku tunggu kawanku saja. Dalam hati aku memanggil-manggil lewat telepati.

Benar. Satu orang berdiri. Tapi itu bukan temanku. Dia adalah pendaki yang berpapasan kemarin pagi dan setuju bergabung. Dua temanku tetap asyik bergitar. Dari tendaku, aku lihat orang tadi masuk ke tendanya, kasak-kusuk satu menit dan keluar. Dia membawa nasi dua bungkus. Menuju tendaku.

"Kamu udah makan lagi?" Lelaki itu bertanya begitu masuk ke tendaku.

Aku diam. Memikirkan yang tidak-tidak dari orang ini. Ada apa dia berbaik hati menawariku makan? Kami kan baru kenal belum sampai 48 jam. Jangan-jangan ada agenda terselubung. Jangan-jangan dia ingin jahil. Jangan-jangan ini beracun. Jangan-jangan ini jangan-jangan. Tuhan, lindungi aku.

"Tapi..." kataku dengan hati-hati. "Emang agama kamu apa?"

Dia yang membuka bungkusannya berhenti. Menoleh yang heran. "Islam, kenapa?"

Ini dia. Tebakanku nyaris saja benar. Aku ingat betul bagaimana Islamisasi yang kedua orangtuaku bicarakan. Jangan-jangan dia antek Negara Islam Indonesia. Selanjutnya dia akan mencatat nomor ponselku untuk dia ajak ke pengajian. Atau ke masjid. Atau ke pesantren. Aku akan diteror sampai jadi mualaf. Pasti begitu pasti begitu pasti begitu.

Aku menelan ludah.

Dia membuka karet bungkus pertama dan memberinya sendok.

"Kamu.." terawangnya sambil melihat seantero isi tenda. Dia berhenti saat melihat kalung salibku "Kristen?"

Aku mengangguk pelan. Dia geleng-geleng.

Dia hanya menaruh nasi tadi di atas pangkuanku.
Ini dia. Biar kutebak, selanjutnya dia pasti memintaku mengucapkan dua kalimat syahadat. Tidak, terimakasih. Baiknya aku kelaparan saja agar bertemu Bapa di Surga. Keimananku tidak semurah nasi bungkus. Pergilah kau. Makan sendiri agamamu!

Seketika lamunanku terputus saat dia bicara. "Saya Islam, saya makan Islam saya. Kamu Kristen, kamu makan Kristen kamu."

Aku bengong.

"Ini ada nasi, kita makan sama-sama." Kata dia sambil tersenyum simpul.

Sebelum suap pertama, aku bertanya "Siapa namamu?"
______________________________

*Diadaptasi dari orasi budaya Aat Soeratin di Bandung Lautan damai, 16 November 2012 di Gedung Indonesia Menggugat.
0

Mejikuhibiniu Jadi Merah Putih

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal


Orang Indonesia tahu mereka bhinneka, tapi menolak bertunggal ika. Lihat saja kekerasan atas nama beda yang muncul di mana-mana. Perbedaan kini telah jadi alasan untuk melakukan kekerasan. Membuat kebhinnekaan Indonesia makin keruh saja.

Bisa jadi mereka lupa dengan semboyan bangsa. Padahal sudah dipajang di ruang-ruang kelas, dicetak di buku-buku pelajaran, dan dibacakan setiap upacara bendera. Bahwa pendiri bangsa ini, 68 tahun yang lalu, sudah tahu bahwa Indonesia takkan akur. Tapi Soekarno pasti menolak bangga meski ramalannya terbukti benar.

Kini, Pancasila sebatas dekorasi berbentuk garuda. Bhinneka tunggal ika pun sebatas tulisan yang dihapal tanpa makna. Keduanya kini tak lagi mampu berbuat apa-apa. Masyarakat pun makin alergi dengan orang yang berlainan. Bila ini dibiarkan, Indonesia yang bubar jalan tinggal ditunggu tanggal mainnya.

Rapor Merah Kebhinnekaan

Ultimate in Diversity” (hebat dalam keragaman) adalah slogan pariwisata Indonesia. Bahwa negeri ini punya ribuan budaya, dan pemerintah sadar betul potensi pariwisata dari warna-warni itu. Namun di sisi lain, konflik lintas-budaya dibiarkan ada, melaten, terkesan dipelihara.

Sebut saja kasus GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi. Keleluasaan mereka dalam beribadah tertunda lantaran izin gerejanya dibekukan pemerintah kota masing-masing. Dalam kedua kasus ini, pemerintah manggut saja pada tekanan mayoritas. Maka, soal mengurus keragaman, pemerintah telah bermuka dua.

Bukan pemerintah saja yang melukai semboyan negara, masyarakat pun ikut serta. Data The Wahid Insitute menyebutkan, tahun 2012 saja, ada 51 pelanggar kebebasan beragama dari kelompok masyarakat. Mereka saling menyumbang angka mencapai 197 kasus kekerasan. Posisi pertama dipegang oleh sebuah ormas berlabel agama[1].

Publik sendiri telah melihat bagaimana kelompok-kelompok ini menghadapi perbedaan. Ada yang mempertontonkan ketidaksetujuan dengan parang. Ada yang tanpa merasa bersalah merasa berhak melempari orang. Mereka tak hanya melukai orang, tapi sekaligus juga cita-cita bangsa.

Hal ini menjadi masuk akal bila kita melihat data toleransi di Indonesia. Survei dari Center of Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. Dalam survei ini, ada 59,5 persen responden tidak berkeberatan bertetangga dengan orang beragama lain. Sekitar 33,7 persen lainnya menjawab sebaliknya[2]. Rupanya bibit perpecahan itu tidaklah jauh, tapi sejak di depan rumah kita.

Rapor merah ini tak hanya dari The Wahid Institute dan CSIS saja. Masih ada laporan dari CRCS Universitas Gadjah Mada, Amnesty International dan Human Right Watch[3]. Nilainya merah semua, Indonesia gagal naik kelas. Maka masihkah dunia percaya bahwa Indonesia hebat dalam keragaman itu, ketika masyarakatnya alergi beda?

“Indonesia adalah Kesepakatan”

Sengaja saya pinjam kata-kata itu dari Alissa Wahid, puteri Gus Dur. Sebab Indonesia bukanlah suku, melainkan semua suku. Indonesia bukanlah pulau, tapi gugusan pulau. Tak ada satu pun daerah yang berhak mengaku sebagai Indonesia, selain dengan menggandeng daerah lainnya.

Nama “Indonesia” sendiri sebelumnya tak ada sampai semua orang sepakat pada 28 Oktober 1928. Semua pemuda dari berbagai budaya setuju jadi satu nama. Sebab semuanya terlalu berbeda, mereka sampai perlu membentuk identitas baru yang namanya Indonesia. Sejak lahirnya, Indonesia memang ada karena perbedaan.

Dari sini pula terlihat bahwa pendiri bangsa kita telah selangkah di depan. Visi dan harapan mereka sudah disampaikan dengan meminjam kalimat Empu Tantular. Lewat berbeda tapi satu jua, pendiri bangsa berpesan bahwa perbedaan bukan untuk diperkelahikan. Perbedaan justru perlu disediakan ruang, dipahami, lalu dirayakan. Perbedaan adalah sebuah kekayaan yang berhak dibanggakan.

Barangkali para pelaku kekerasan lupa akan kesepakatan itu. Mungkin juga mereka lebih senang bila Indonesia dibubarkan saja. Mungkin mereka tak keberatan bila Jawa Barat dan Jawa Tengah saja jadi dua negara yang berbeda. Mungkin mereka lebih senang mengurus visa hanya untuk ke Bali. Kenapa mereka mau begitu repot?

Mejikuhibiniu Jadi Merah Putih

Pelangi takkan indah bila hanya satu warna. Dari pada repot menyeragamkan, lebih baik duduk sejenak sambil menikmati kekayaan ini. Toh generasi Indonesia sebelum kita sepakat jadi satu. Maka alergi beda ini perlu diobati sekarang juga. Jangan sampai Indonesia keburu kritis dan akhirnya mati.

Di sinilah mahasiswa punya kesempatan mengubah situasi. Sebagai yang nantinya mengurus Indonesia, mahasiswa perlu membiasakan diri terhadap perbedaan. Tak perlu ikut seminar hak azasi, bukan melulu yang seperti itu. Karena bila toleransi berangkat dari pengalaman, maka untuk jadi toleran kita tinggal berani berinteraksi dengan orang berlainan.

Sebuah interkasi akan menyadarkan kita yang selama ini terbiasa oleh stigma. Saatnya sikap curiga soal suku X atau agama Y dicek kebenarannya. Tak usah jauh-jauh, mulailah di kampus sendiri, persis di depan kelasmu. Pada akhirnya, stigma akan dibongkar habis dan semua akan selesai dengan kesalahpahaman. Lewat sebuah perbincangan, perbedaan tumbuh dalam kepelangian.

Jadi, mari kembali pada obrolan di awal, merujuk pada kontrak pendiri bangsa. Saatnya selesai dengan saling aku, saatnya bicara kita. Bahwa betapapun bedanya warna kita, yakni me-ji-ku-hi-bi-ni-u, toh benderanya merah putih juga. Soalnya saya ngeri membayangkan bila Indonesia gagal mengurus keragaman. Bubar jadi negara-negara kecil di nusantara. Harus terhapus dari peta dunia.***

_______________

[1] Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2012, dari The Wahid Institute

[2] Dikutip dari http://www.tempo.co/read/news/2012/06/05/173408521/Survei-Toleransi-Beragama-Orang-Indonesia-Rendah

[3] Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012, dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies, UGM 

Sumber data :

*Juara 1 lomba essay dalam HUT ke-18 Pers Mahasiswa Jumpa Universitas Pasundan, Bandung

Lihat tulisan aslinya di sini
0

Pancasila Rumah Kita

Para artis ini mengajak kita menghormati Pancasila.
Semata agar kita semua bisa hidup bersama.


0

Etnis Tionghoa (Katanya) Tidak Mau Berbaur

Oleh Gabriella Ria Apriyani / @hujanriaa

"Mengapa semua Cina peranakan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang tidak pernah mau berbaur dengan pribumi?"


Pertanyaan tersebut terlontar dari salah seorang teman pada saat presentasi budaya Cina di kelas Komunikasi Lintas Budaya(KLB) Jumat lalu. Alih-alih bertanya mengenai budaya dari negara yang sedang dipresentasikan, kelas KLB yang seharusnya menjadi ajang pertukaran pengetahuan soal budaya tersebut justru berubah menjadi kelas untuk memperdebatkan masalah sosial. Sebagai seseorang(dan mungkin satu-satunya di kelas itu) yang setengah darahnya Cina, saya merasa tertohok.

Premis selanjutnya dari teman saya adalah bahwa semua peranakan Cina di Indonesia sampai sekarang masih eksklusif. Mulai dari sekolah, gereja, hingga pergaulan. Semua berkumpul dalam satu komunitas tertutup dan ia menyebut peranakan Cina di Indonesia tidak mau berbaur dengan masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa, atau dengan istilah yang mereka gemar gunakan adalah pribumi. Dalam hati saya, saya bertanya-tanya, benarkah?

Sejak TK saya masuk ke sekolah swasta Katolik dimana mayoritas siswa di sana memang keturunan Tionghoa. Yang saya ingat, ketika ayah saya menyekolahkan saya di sana sama sekali tidak bermaksud membuat sebuah pagar pembatas antara saya dengan kelompok pribumi. Ayah saya hanya ingin agar saya tetap dapat dekat dengan tradisi kami, dimana dia berharap saya bisa banyak belajar dan berbagi dengan teman-teman saya, apa yang mungkin tidak bisa dia berikan secara maksimal mengenai tradisi leluhur kami. Tidak ada maksud sama sekali untuk menjadikan saya manusia eksklusif.

Lingkungan tempat tinggal saya 99% bukan keturunan Tionghoa. Kami hidup rukun dan baik-baik saja. Teman main saya saat kecil semuanya bukan keturunan Tionghoa dan kami tidak pernah memperdebatkan soal suku dan identitas saat itu. Kami bermain, kami bertengkar, kami saling curang, tanpa harus berpikir apakah saya Tionghoa atau bukan.

Di sekolah saya, banyak juga mahasiswa yang bukan berasal dari keturunan Tionghoa. Dan selama 14 tahun saya bersekolah di sana, tidak pernah sekalipun saya dengar ada perdebatan mengenai asal-usul suku ataupun etnis. Tidak sekali-kalipun. Teman-teman saya juga tidak. Kami tumbuh dan berkembang bersama, tanpa perlu memikirkan perbedaan

Sekalipun saya tidak memungkiri bahwa ada saja beberapa keluarga yang memang masih tertutup pemikirannya seperti yang dikatakan teman saya tersebut. Misalnya saja ada beberapa  teman saya yang berasal dari keturunan Tionghoa diharuskan oleh orang tuanya untuk memilih pacar(pasangan) yang juga merupakan keturunan Tionghoa. Tapi lebih daripada itu, berkaitan dengan pergaulan pertemanan tidak pernah ada pembatasan.

Kalaupun mungkin misalnya yang tampak bahwa sebagian besar anak-anak etnis Tionghoa disekolahkan dan dikuliahkan di sekolah dan kampus tertentu, saya pikir itu bukan sepenuhnya karena tidak mau berbaur. Saya tidak akan bicara soal kualitas di sini. Tapi lebih kepada kedekatan identitas dan efisiensi.

Sebagian besar etnis Tionghoa di Indonesia memeluk agama Kristen, Budhist, atau Kong Hu Chu. Dan sebagian besar dari orang tua mereka ingin anaknya bersekolah dan kuliah di Universitas yang berbasis agama Kristen, Budhist, atau Kong Hu Chu(saya kurang tahu apakah ada universitas yang berbasis agama Budhist, atau Kong Hu Chu. Kalau sekolah saya tahu ada). Tindakan itu didasarkan alasan supaya mereka mendapat pelajaran agama yang layak dan memadai, tidak kesulitan. Menurut saya ini logis. Apa bedanya dengan orang tua Muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis agama Islam?

Untuk semua ketidaksetujuan saya itu, saya merasa perlu memberikan sebuah argumen. Saya tidak memungkiri bahwa memang masih ada saja keturunan Tionghoa yang cenderung bersikap eksklusif. Mungkin lebih tepatnya saya tidak suka dengan kata 'semua' yang teman saya itu gunakan. Yang saya tahu, sekarang ini sebagian besar dari kami sudah berbaur. Karena perkembangan zaman, interaksi itu tidak bisa dihindarkan lagi.

Tapi pertanyaan teman saya itu pada akhirnya menjadi sebuah bahan renungan bagi saya selama beberapa hari ini. Mungkin saya dan orang-orang keturunan Tionghoa yang lain harus mengecek ke dalam diri kami, apakah benar kami masih saja terlalu eksklusif? Namun, intropeksi diri ini juga menurut saya tidak bisa dilakukan sepihak saja. Saya tidak mau menutupi bahwa sampai saat ini masih ada saja masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa yang melontarkan ejekan bernada SARA, sekalipun tidak frontal. Jadi bukankah ini berarti kedua belah pihak harus sama-sama intropeksi?

Entah kenapa sampai saat ini saya pribadi tidak pernah bisa menyukai istilah pribumi dan non pribumi. Istilah itu menjadikan identitas asal saya seolah sangat jauh dari Indonesia. Saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia, pertama kali menapakkan kaki di sini, meminum airnya, menghirup udaranya. Saya benar-benar merasa Indonesia. Bukan berarti kan mata yang sipit dan kulit yang lebih putih menjadikan saya bukan bagian dari Indonesia?

Jujur, saya takut terlalu lama istilah itu dipakai, nasionalisme saya terkikis karena lama-kelamaan saya bisa jadi merasa bahwa saya bukan orang Indonesia. Saya tidak kehilangan cinta pada negara ini, hanya saja pada sebagian masyarakatnya. Saya harap hanya saya sendiri yang merasa takut akan hal ini. Saya harap istilah pribumi dan non pribumi bisa terdengar lebih ramah di sini.
100

Batas

Oleh Gabriella Ria Apriyani / @hujanriaa


Kakimu seolah dipancang di satu titik itu saja. Akibatnya kamu jadi tidak mampu bergerak, apalagi berpindah. Tidak mampu atau masih ragu?

Semua ini diawali oleh satu panggilan telepon dari sahabatmu yang kamu terima kurang-lebih satu jam lalu ketika kamu masih di rumah, baru selesai menikmati segarnya air dingin yang mengusir kantuk, dan siap melanjutkan ritual pagi dengan meminum secangkir kopi. Kamu masih ingat persis kata-kata yang diucapkan sahabatmu,

"Telur-telur untuk acara hari ini tertinggal di rumah. Bisa tolong kamu ambil dan anterin ke sini? Setengah jam lagi acara dimulai dan aku nggak mungkin ambil sendiri ke rumah."

Diucapkan dengan nada memohon yang membuatmu tidak mungkin berbuat apa-apa lagi selain menyanggupi. Semuanya dimulai sesimple itu, tetapi dampaknya belum habis sampai sekarang. Kamu diperangkap oleh dilema. Berdiri di depan gerbang gedung yang bertahtakan salib di puncak atapnya, menimbang-nimbang apakah harus masuk atau tidak.

Kamu masih ingat dengan jelas barisan-barisan nasehat yang kamu terima sejak kecil dari orang tuamu. Nasehat-nasehat yang bahkan masih sesekali kamu terima hingga sekarang.

"Gereja itu tempatnya para kafir Nak. Jangan dekat-dekat kesana! Nanti kafir juga kamu."

"Jangan pernah masuk ke tempat itu Nak! Merusak aqidah, bahaya! Allah tidak akan suka, masuk neraka kamu nanti."


Nasehat-nasehat semacam itu yang sudah memborbardirmu sejak kamu mulai diperkenalkan pada huruf-huruf Arab, menjadikanmu tumbuh dengan membangun batas yang jelas antara dirimu dengan bangunan itu. Sekalipun kamu tidak pernah melangkah keluar dari batas tersebut, sekali-kali pun tidak. Sampai saat ini.

Handphonemu kembali berdering. "Hey, kamu sudah sampai mana? Aku tunggu di dalam ya. Anak-anak sudah banyak yang datang, aku nggak bisa keluar."

Panggilan terputus. Tidak dengan dilemamu. Dilemamu masih terus berlanjut. Suara-suara yang terdengar dalam dirimu semakin banyak dan semakin ramai. Memprovokasi untuk melakukan ini dan itu. Ada yang berkata untuk bergegas karena kamu sudah ditunggu, dibutuhkan, dan memang kamulah satu-satunya harapan. Ada suara yang mengingatkan soal dosa, nasehat-nasehat orang tuanya, pelanggaran aqidah, dan murka Allah. Kamu takut api neraka.

Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki kekuatan super saat ini, satu-satunya yang kamu inginkan adalah kemampuan untuk memindahkan barang dari jarak jauh. Tanpa harus berpindah, tanpa harus kamu sendiri yang mengantarkannya secara langsung. Semacam telekinesis, atau teleportasi yang khusus digunakan kepada benda-benda. Apapun itu, selama mampu menyelamatkanmu dari situasi sarat konflik batin seperti sekarang.

Tiba-tiba saja wajah sahabatmu itu terlintas di benakmu. Kamu ingat binar matanya setiap kali bercerita mengenai tingkah polah anak-anak di Sekolah Minggu. Kamu terpikir betapa kecewanya pasti anak-anak tersebut kalau keseluruhan acara berantakan hanya karena kamu tidak mau membuat satu langkah saja untuk memasuki gedung itu.

Akhirnya kemudian semua bayangan mengenai orang tua dan dosa menguap habis. Dan dengan kemantapan hati sambil berucap dalam hati, “Bismillahirrahmanirrahim…”, kamu melangkah memasuki bangunan dengan salib di puncak atapnya itu. Dengan satu langkah mantap, kamu mendorong batas yang selama ini diyakini dalam dirimu dan mendobraknya. Batas itu kini hancur, lebur... Keluar dari segenap pori-pori, mengalir jatuh bersama titik-titik keringat di sekujur tubuhmu. Habis sudah.

__________________________________

Ditulis oleh @hujanriaa buat #Pluks 
Bisa dibaca pula di blognya : http://inilahtandatitiknya.blogspot.com/2013/03/batas.html
0

Poster "Keep Calm"




 



0

Halo, Harmoni!




Kalau nonton TV akhir-akhir ini rasanya sedih. Lihat orang-orang pada lebay. Ada orang beda keyakinan terus saling pukul, kenapa mereka nggak barengan nonton Tukul? Ada juga yang beda suku terus bertengkar, kenapa mereka nggak duduk bareng terus main gitar? 

Di harmoni, kita belajar bahwa kita itu berbeda. Beda agama, suku dan jenis kelamin. Terus, walau beda, tetap bisa berbagi tawa canda. Jangan sampai kekerasan jadi jalan, soalnya semua bisa dibicarakan. Kita semua mau hidup damai kan? 

Band Kotak juga bilang, “penindasan kekerasan nggak zaman”.
Selamat datang di harmoni, mari menebar damai.

*Rio Tuasikal / @riotuasikal
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com