Penasaran Soal Syiah, Bertanyalah kepada Syiah

Oleh: Neng Nuraini



“Selamat datang..” sambut Pak Syamsuddin Baharudin hangat, saat saya dan rombongan Sahabat Lintas Iman (SALIM) mengunjunginya di Kiaracondong, Bandung, Januari lalu.

Pak Syamsuddin adalah Ketua Umum PP Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Dia ditemani sejumlah rekan ketika menerima kami yang berasal dari berbagai mazhab, Sunni (dari NU dan Muhammadiyah), Syiah, dan Ahmadiyah.

“Saya harus mengapresiasi kawan-kawan semua, yang mau melakukan upaya-upaya untuk berdialog lintas iman, dari berbagai kalangan. Saya respect kalo teman-teman SALIM memulainya dari kalangan muda,” papar Syamsuddin, sambil menambahkan hal ini saya sangat bagus.

Selain dialog-dialog seperti ini, menurutnya perlu dilakukan kampanye untuk kaum muda. “Ketika teman-teman SALIM bersilaturahmi pada kawan-kawan Muslim Syiah, atau Ahmadiyah, menurut saya penting untuk dikampanyekan ke publik, agar mengurangi kesalahpahaman terhadap kelompok-kelompok seperti Muslim Syiah dan Ahmadiyah,” jelasnya.

Dia menekankan penting untuk mengetahui Syiah dari sumber-sumber objektif Syiah. Banyak di sosial media yang menghakimi Syiah dari sumber-sumber yang memang anti Syiah. “Itu yang menurut saya tidak pas dan tidak membangun jembatan dialog,” kata dia.

“Tidak fair Anda menilai Syiah dari kalangan orang-orang yang tidak mengetahui tentang Syiah, bahkan dari orang-orang yang benci terhadap Syiah.”

Ada satu buku yang menurutnya bagus untuk dibaca, salah satunya bukunya Pak Quraisy Shihab ‘Sunni Syiah Bergandengan Tangan’.



Salah satu kawan SALIM kemudian bertanya:

“Upaya apa yang dilakukan IJABI untuk menangkal kelompok-kelompok radikal?”

Pak Syamdudin menjelaskan upayanya untuk berdialog kepada orang-orang yang kekurangan informasi tentang Syiah. Namun ada saja kelompok yang tidak suka terhadap Syiah, bukan karena tidak tahu, tapi lebih dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.

“Kita tidak bisa membangun dialog pada orang yang tidak ingin berdialog. Bagaimana kita bisa berdialog pada orang yang menghakimi kita? Biarlah yang sepeti itu menjadi tugas aparat hukum,” ujarnya kepada kami.

“Kalo ada cara-cara yang radikal dalam mengatasi perbedaan, itu bukan tugas kita, tapi tugas aparat hukum. Tugas kami adalah menghadapi orang yang memang mau membuka dialog,” jelasnya lagi.

Kawan SALIM lain kemudian menceritakan pengalamannya, “Saya ini sering bersilaturahmi kepada kawan-kawan non-Muslim, seperti Nasrani, Baha’i, dan lainnya. Saya foto-foto, kan, lalu saya posting, saya dicap macem-macem sama mereka, Pak.”

“Bagi orang-orang seperti Anda ini, yang mau membangun jembatan dialog, pasti akan mempunyai resiko yang besar. Pertama paling langsung dicap, diberi label. Orang yang berusaha memahami suatu kelompok yang dikecam, kelompok sumbu pendek pasti akan menggolongkannya sama dengan kelompok itu. Siap-siap saja anda dengan resiko itu. karena setiap pilihan, pasti ada resikonya,” paparnya.

“Bagaimana sih Sunni-Syiah itu Pak?” tanya yang lain.

Pak Syamsuddin mengutip jawaban Jalaluddin Rakhmat, “Perbedaan Sunni-Syiah itu, kalo orang Syiah percaya bahwa nabi sebelum wafat berwasiat, kalo orang Sunni tidak percaya nabi berwasiat. Wasiat di situ wasiat tentang siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan setelah Nabi wafat,” pungkasnya.

Dia menganjurkan kami membaca buku ustadz Jalaludin Rakhmat ‘Misteri Wasiat Nabi’.

Pak Syamsuddin mengatakan yang sering diributkan orang-orang di sosial media itu adalah perbedaan pada cabang-cabangnya saja, bukan pada akar persoalannya.

Pernah wartawan Bangladesh, bukan Syiah, mengunjungi Iran. Ia ingin tahu, betulkah kehidupan orang-orang Sunni seperti yang digambarkan orang-orang, dibantai, dan lain sebagainya. Ia melakukan reportase ke tempat-tempat Iran yang mayoritasnya orang Sunni, dan menemukan tidak benar semua itu.

“Orang-orang Syiah ternyata hidup berdampingan dengan orang-orang Sunni disana,” paparnya.

Selang beberapa detik, kawan SALIM ada yang bertanya kembali:

“Pak, saya pernah melakukan penelitian, di daerah Sumedang itu Asyura sudah menjadi tradisi dan merupakan nafas kehidupan bagi mereka. Nah, saya ingin tahu, bagaimana sebenarnya Asyura itu, katanya kemarin-kemarin ada yang membubarkan peringatan Asyura ke sini?” tanya anggota SALIM yang lain.

Kali ini, giliran rekan Pak Syamsuddin yakni Ustadz Miftah Rakhmat yang menjawab, Asyura di Bandung sebenarnya sudah ada sejak tahun 1987 dan berjalan baik. Hanya setelah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) berdiri, mulai terjadi penolakkan peringatan Asyuro oleh kelompok itu di berbagai daerah di Indonesia.

“Terakhir, terjadi penolakkan Asyuro oleh PAS, orang-orang yang sama dengan yang membubarkan KKR,” katanya.

“Kami sampaikan ‘Kalau kami melanggar hukum, mangga ditangkap, alasannya apa? Tidak boleh melakukan kegiatan, apa dasarnya? Kalo kami memang melakukan kesalahan, silahkan saja diproses’,” tegasnya lagi.

Ustadz Miftah menegaskan komunitasnya tunduk pada peraturan. Kata dia, “Di antara pilar IJABI adalah ‘Islam Madani’. Artinya, berbangsa dan bernegara itu sudah merupakan kewajiban menjalankan agama. Kita, orang Islam, harus patuh pada perjanjian. Bagi kami, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) juga merupakan perjanjian bersama anak bangsa.”

Dia menjelaskan salah satu contoh perjanjian adalah ketika kita menandatangani KTP, yang artinya siap patuh dan taat pada peraturan negeri ini. Punya KTM, berarti siap patuh pada tata tertib kampus. Punya SIM, berarti siap patuh pada tata tertib lalu lintas. Sederhana.

“Terkait isu Syiah, isu Asyura itu memang malah menjadi dagangan, dimanfaatkan oleh yang mempunyai kepentingan,” ringkasnya.



Kawan SALIM lain penasaran dengan kabar bahwa Syiah sendiri terbagi-bagi.

Ustadz Miftah menjelaskan, “Bergolongan-golongan itu sudah tantangan bagi setiap kita. Hampir semuanya bergolong-golongan.”

Dia berpendapat kelompok-kelompok itu muncul karena ada ego. Dia menjelaskan, dalam Syiah, secara ilmiyah, ada yang disebut Syiah Isma’iliy, Zaidiy. Meski harus diverifikasi, kebanyakan 90% Syiah itu Syiah 12 Imam atau biasa disebut Syiah Itsna’ ‘Asyariyah, Syiah Imamiyah, Syiah Ja’fariyah.

Kata dia, kalaupun ada istilah Isma’iliy atau Zaidiy barangkali dulu masih belum ada yang terima kalau kepemimpinan Imam tertentu. Karena pada waktu itu para Imam dikejar-kejar oleh para musuh, mungkin terjadilah kesamaran.

“Tetapi kami belajar kepada keluarga Nabi Muhammad SAW yang suci, itu untuk belajar taat dan patuh. Nabi memberitahu akan ada seorang pemimpin setelahnya, ya kami patuh,” tandasnya.

“Kita bergama itu harus taslim, menyerahkan diri, pasrah, kepada Baginda Nabi, taat setaat-taatnya,” katanya lagi.

Sementara itu, rekan pak Syamsuddin yang lain, Pak Hesyti, ditanya seputar masalah yang terjadi pada Syiah dan menjawab, “Islam itu adalah rahmatan lil’aalamiin (kebaikan bagi seluruh alam, red). Ketika ada yang menyakiti kita, kita memafkan dengan mudah. Orang mau benci kita, itu bukan urusan kita, itu urusan dia.”

“Permusuhan itu sebenarnya harus diredam. Kita lakukan sesuatu yang membuat persatuan, salah satunya dengan silaturahmi. Tampillah sebaik-baiknya, sehingga mereka bisa merasakan perilaku kita. Terkait menghakimi orang lain, saya tidak ingin menisbahkan label pada orang lain, karena saya juga tidak ingin dinisbahkan oleh orang lain,” tutupnya.

Begitulah poin-poin yang penulis catat selama berdiskusi dengan pengurus IJABI. Penulis berharap, setelah tulisan ini dibaca, tidak ada prasangka-prasangka negatif lagi terhadap kawan kita Muslim Syi’ah. Semoga kerukunan berkeyakinan selalu terjalin di negeri kita yang indah karena keberagamannya. Bersatulah, dan berdiskusilah. Karena diskusi merupakan jembatan menuju satu titik temu yang selalu kita bingungkan.

Damailah... Damai selalu wahai umat yang satu.

Terakhir, penulis ucapkan pada kawan-kawan SALIM.

Selamat berjuang.. Selamat menjadi jembatan perdamaian..

Editor : Rio Tuasikal/@riotuasikal
0

Lima Muslim Jadi Artis di Acara Natal GKP Bandung

Oleh Neng Nuraeni / IG @ainy313



Ketika sampai di GKP Ujungberung Bandung, dalam acara Natal 26 Desember lalu, kami langsung menjadi sorotan kawan-kawan nasrani yang ada di gereja.

Mungkin mereka heran dan berpikiran, 'ada apa ini dua muslimah datang ke gereja? Mau ngebom? Hahaha... Semoga aja gak berpikiran seperti itu. Haduh, jangaaaan.

Tapi gak mungkin lah mereka berpikiran seperti itu. Kami berpakaian yang menunjukkan bahwa 'ini loh, kami ini Indonesia yang beragama Islam, bukan Islam yang kearab-araban'.

Dan juga selama di gereja kami gak pernah lepas senyum manis dari bibir kami. Semua yang menatap kami, kami beri senyum. Sekedar menunjukkan pada kawan nasrani, 'ini loh kami muslim dan muslimah yang ramah, bukan muslim dan muslimah yang marah.'

Kebetulan yang datang 2 muslimah dan 3 muslim, dari berbagai denominasi, Nahdlatul Ulama yang sunni, juga syi’ah, dan ahmadiyah. Kami yang berlima ini, datang atas nama komunitas Sahabat Lintas Iman (SALIM).

Setelah ketua penggagas komunitas kami bertemu dengan pendeta di sana, kami berlima diperkenalkan olehnya kepada seluruh jemaat kawan-kawan nasrani di Gereja. Diperkenalkanlah kami di sana dengan pernuh apresiasi dari jemaat. Bahkan komunitas kami direkomendasikan pada kawan nasrani.

Kami disambutnya dengan hangat. Saya rasa, sambutan kawan-kawan nasrani  ---yang jelas-jelas beda iman dengan muslim--- di sana lebih hangat dari pada kawan-kawan yang ngaku muslim tapi masih mandang sinis orang yang berbeda paham dengannya. Hahaha..

Orang muslim yang notabenenya agama rahmatan lil’aalamiin jangan kalah ramah dong dengan nasrani yang ajarannya cinta kasih. Hehehe...

Kami malu dan kami terharu. Kami malu pada mereka karena sebagian dari muslim masih ada yang bertidak diskriminatif terhadap mereka. Kami juga terharu, karena ternyata kita itu sebenarnya bisa loh bersatu. Kalau kita sama-sama merendahkan hati, jalinan persaudaraan pasti terjalin.

Sesuai dengan tema Natal di sana: Dengan kelahiran-Nya mari kita satukan segala perbedaan dengan kerendahan hati untuk mempererat tali persaudaraan. Bagus bukan? Garis bawahi “kerendahan hati untuk mempererat tali persaudaraan”.

Sekarang bukan waktunya mempermasalahkan perbedaan. Perbedaan sudah ada sejak dulu, sekarang tinggal kita lukis perbedaan itu dengan bingkai persatuan agar menjadi persamaan. Persamaan yang membawa kita pada satu kesepakatan, 'Ini loh kita ini sama-sama manusia yang mempunyai hak asasi manusia yang sama.

Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah bilang: “Saudaramu itu ada dua, saudara dalam Iman, dan saudaramu dalam kemanusiaan.” Ya kalau gak sesuai dengan iman kita, kita tetap hormati dia karena dia juga saudara kita dalam kemanusiaan. Jangan sampai hak-hak kebebasan mengekspresikan keyakinan orang yang berbeda dengan kita menjadi sesuatu yang dibenci dan dimusuhi.

Toleransi itu tidak menjadikan kita ikut pada ajaran orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Tapi toleransi itu mengajarkan kita bahwa hak-hak setiap manusia itu harus dijamin kebebasannya. Termasuk kebebasan mengekspresikan keyakinan, sesuai dengan UU tentang HAM yang pernah saya dengar.

Acara demi acara terlewati. Pertunjukkan dari berbagai jemaat yang menampilkan keberagaman bahasa dan suku mengajarkan kita bahwa kita ini beragam. Kita ini majemuk. Dan kita harus menerima itu.

“Tuhan menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal”.

Puja puji kepada Tuhan yang mereka yakini juga mereka panjatkan. Saya dan kawan muslim juga ikut memuji, tetapi kepada Tuhan yang kami yakini, Tuhan Yang Esa, Allah SWT. Gak sampai merusak iman kan? Karena niat kita itu ke sana bukan untuk apa-apa selain untuk silaturahmi. Indah rasanya kalo kita akur kayak gini. Ayolah kita akur. Yuk.

Selesai acara, saya dan kawan muslim diajak foto bersama dengan kawan nasrani. Dan disana kami mendadak seperti artis. Banyak kawan nasrani yang meminta foto dengan kami. Ya Allah.. haha...

Mesra banget kami ini, kaya saudara yang selama berabad-abad terpisahkan dan baru bertemu lagi. Jelas bisa begitu, karena kami melihat sesama dengan kasih sayang. Bukan kebencian. Saling mengistimewakan sesama ---meskipun berbeda dengan kita--- adalah cara kita menghargai lukisan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita hargai dan kita sayangi.

Ada salah satu jemaat mendatangi kami saat duduk di bangku, ia sangat berterimakasih atas kedatangan kami. Ia berkata, "kalau nanti umat muslim ada acara puasa, kerja bakti, atau apa, undang kami di sana, kami siap bantu kawan muslim di sana. Ajak kami untuk bisa seperti kalian yang berhati lapang dalam menerima perbedaan.”

Luar biasa bukan kalo umat muslim semuanya bisa dibilang seperti itu? Sudah saatnya kita tolak paham 'merasa paling benar dan mengkafirkan yang bebeda'. Tebarkanlah kasih. Lapangkanlah hati. Sebarkan senyuman sang Nabi.

Terakhir, kami ucapkan selamat Natal pada kawan nasrani dengan hangat dan penuh senyuman. Orang-orang bilang ucapan selamat Natal bisa mengakibatkan kita berpindah pada agama Kristen ya? Tapi kami?

Kami tetap muslim dan meyakini Tuhan kami satu kok. Kami hanya mencoba berbahagia atas kelahiran salah satu utusan Tuhan sebelum utusan Tuhan yang menjadi penutup para Nabi. Ya, kami turut bersuka cita atas kelahiran Nabi Isa alaihisalam, yang membawa kabar gembira akan adanya Nabi terakhir bernama Ahmad.

Kami tetap muslim kok. Terbukti, itu hanya ketakutan dan kekhawatiran  saja. Gak usah khawatir, kalo iman kita kuat, kita tidak akan terjerumus pada sesuatu yang berbeda dengan kita. Bahkan kalo iman kita dewasa, iman kita akan bertambah dengan melihat keberagaman yang berada di depan mata.

Yuk. Sekarang kita salaman. Salam damai salam persatuan. Semoga arwah leluhur kita ---terkhusus manusia mulia sepanjang zaman yang kita rindukan wajahnya, baginda Muhammad saw.--- yang mengharapkan persatuan memberikan segulum senyum dan hadiah syafa’at di hari akhir.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.  Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali sayyidina Muhammad.

Syukron lillah. Syukron ‘ala kulli haal.

Editor: Rio Tuasikal / @riotuasikal

0

Selamat Waisak


0

Dalam Satu Ikatan* (2 - tamat)

Oleh Yosi Novita Dewi**


Baca bagian 1

Acara inti akan segera dimulai dan aku pun duduk manis untuk mendengarkan ulasan dari kedua penulis ini.

Wiihhh it is very cool,” ucapku dalam hati.

Banyak hal yang dapat aku ambil dari seminar ini. Selain dapat teman baru, aku juga dapat ilmu tambahan. Dua penulis ini sangat sabar mengajari kami dari mulai penempatan kata, menulis cerita yang baik, dan uji coba menulis cerita yang berbentuk naratif. Sunguh luar biasa dua kakak penulis ini.

Thanks for all, kak!” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutku.

Setelah itu kita pun berpose untuk foto bareng bersama kakak panitia semua. Tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat, dan itu mengakhiri acara pertemuan pada seminar kali ini.

Pengalaman kali ini cukup membuat aku happy. Tak terasa hampir 6 jam kita berada disini dan semua peserta seminar bergegas meninggalkan tempat ini dengan berbondong-bondong.

Rasa lelah bercampur dengan rasa bahagia itu menyelimuti pikiranku. Hanya orang terpilihlah yang bisa berada di tempat ini dan aku sangat bersyukur bisa meluangkan waktu untuk menghadiri tempat ini tanpa harus meninggalkan kewajibanku di pondok pesantren.

Yah bisa dibilang aku tuh hobi banget nulis. Jadi kalau ada kesempatan yang hubungannya dengan nulis, entah itu fiksi atau non-fiksi, aku pasti menyempatkan untuk hadir dan mengikuti acara dari awal sampai akhir. Karena itu cita-citaku sejak SMP, aku menyadari bahwa tak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Namun dengan berusaha dan berdoa, semua itu akan menjadi lebih mudah bagi Allah untuk memberikan jalan keluar bagi seseorang yang ingin berusaha keras. “Yang terpenting tidak terlepas dari kaidah hukum Islam,” ujarku.

“Aku hanya bisa menunggu kesempatan datang kepadaku, Liza. Agar suatu saat nanti aku bisa menjadi seorang penulis tanpa harus memaksakan kehendak, dan aku siap dengan semua konsekuensinya yang akan terjadi pada suatu hari nanti,” ucapku sambil memandang Liza penuh semangat.

“Aku yakin rencana Allah lebih indah....”

“Liza jadi termotivasi sekali dengan kegigihan kak Sisi. Good luck ya, kak,” ucap Liza sambil tersenyum.

Desiran angin yang mampu memberikan kedamaian kepada setiap insan yang sedang merasakan keresahan, itulah yang pernah aku alami saat merasakan kegagalan. Tak selamanya hidup kita akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Justru banyak hambatan untuk mencapai keberhasilan itu.

“Pepatah mengatakan: semakin tinggi pohon menjulang semakin berat rintangan menghadang. Itu yang selalu aku ingat dan kujadikan motivasi untuk diriku sendiri, Liza,” ucapku meneteskan air mata. Liza pun memelukku.

Kulihat jendela kamar masih terbuka. Hujan turun dengan lebatnya dan kupandangi setiap tetesan air hujan yang menetes. Aku tersenyum sendiri membayangkan keceriaan yang telah kulalui saat berada di tempat seminar tadi. Rasanya sulit untuk aku lupakan bayangan itu. Semakin terlihat jelas di pelupuk mataku dengan canda tawa yang mengisahkan sejuta kebahagiaan.

“Biarkan perbedaan keyakinan itu menjadi suatu ikatan yang baik untuk menjalin tali silaturahmi antar-agama,’’ ucapku menutup perbincangan siang tadi.


(tamat)


*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Yosi Novita Dewi dilahirkan di Sukabumi, 27 Desember 1995. Sedang menjalani kuliah di perguruan tinggi STAI Daarussalaam semester 5,  program studi tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Kesehariannya tidak terlepas dari menulis, berimajinasi, dan mencari hal baru yang bisa dijadikan bahan penulisan cerpen.

Gambar milik 123hdwallpapers.com
0

Dalam Satu Ikatan* (1)

Oleh Yosi Novita Dewi**



“Pagi, kak Novi!,” Liza temanku menyapa.

“Pagi juga, Liza. Ayo sini! Kita sarapan bareng,” ajak aku pada Liza.

Para santri memulai hari dengan sarapan.

“Kak, gimana? Jadi seminar sekarang?” tanya Liza.

“Of course, kita berangkat sekitar setengah jam lagi,” jawab aku sembari tersenyum.

“Ok, kak. Aku siap-siap, ya!” ucap Liza sambil pergi dari ruang makan.

Semua telah aku bereskan dan aku siap-siap untuk menghadiri acara seminar hari ini.



Di sepanjang perjalanan, tak pernah sedikit pun terbayang bisa menghadiri seminar bedah buku dan secara live bisa bertemu dengan penulisnya. “Ini sungguh luar biasa,” pikirku. Aku benar-benar tak sabar ingin cepat-cepat mendengarkan pengetahuan dari penulis itu.

Pukul 07.00 pagi kami berada di lokasi, di gedung Yosanah GKP Kota Sukabumi.

Sungguh tak pernah ada dalam benakku bisa berada di kompleks gereja – yang mana gedung acara tersebut tepat bersebelahan dengan gereja. Rasa kaget dan panik menyelimuti pikiranku. Entah apa yang aku rasakan, hanya rasa tak percaya yang saat ini aku rasakan. Akhirnya rasa penasaran itu pun timbul dan aku bersama Liza menghampiri gedung tersebut.

Di situ aku tercengang karena nampaknya belum terlihat peserta seminar yang datang. Aku dan Liza pun segera masuk ke dalam gedung tersebut dan menempati bangku yang telah disediakan.

Aku bersama Liza bertemu dengan seorang ibu yang mana ibu itu adalah pemilik gedung beserta gereja tersebut. Tiba-tiba rasa tidak percaya itu timbul lagi.

“Aduh! Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh aku tak percaya dengan semua ini.”

Kami pun ingin tahu lebih dalam tentang latar belakang ibu itu. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Ibu, boleh nanya nggak?”

“Oh silakan saja,” jawab ibu itu singkat.

Aku bertanya nama, alamat dan status ibu tersebut. Ibu itu menjawab namanya ibu Nining, alamat di Kuningan dan statusnya masih single ternyata. Rasa ingin tahu aku pun tinggi, aku pun melontarkan beberapa pertanyaan yang mana pertanyaan itu sangat mudah bagi bu Nining.

“Oh iya, Neng, kalau ibu boleh tahu namanya siapa? Dari mana? Dan sekolah kelas berapa?’’ tanya bu Nining penasaran.

“Aku Sisi, Bu, dan ini Liza adik tingkat Sisi. Kami tinggal di Pesantren Selajambe Cisaat dan kita kuliah di sana baru semester V,’’ ucapku jelas.

Kami pun berbincang-bincang cukup lama dan ternyata beliau adalah pendeta di gereja ini.

“Waw! Ini rasanya sulit ku percaya, tak pernah aku bermimpi bisa bertemu dengan pendeta perempuan!” batinku.

Aku pun bertanya tentang perbedaan protestan dan Katholik. Beliau pun menjawab sangat berbeda sekali entah itu dari kitab atau pun ajarannya. Di situ aku merasa wawasanku bertambah dan aku rasa bu Nining ini seorang pendeta yang baik hati dan lemah lembut. “Orangnya juga sangat asik,” ucapku. 

*** 

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Yosi Novita Dewi dilahirkan di Sukabumi, 27 Desember 1995. Sedang menjalani kuliah di perguruan tinggi STAI Daarussalaam semester 5,  program studi tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Kesehariannya tidak terlepas dari menulis, berimajinasi, dan mencari hal baru yang bisa dijadikan bahan penulisan cerpen.

Gambar milik 123hdwallpapers.com
0

Bersembunyi di Balik Kerudung Hitam* (4 - tamat)

Oleh Asih Nurasiyanti**

 

Baca bagian 1
Baca bagian 2
Baca bagian 3


Aku pun berkenalan dengan perempuan paruh baya itu. Dengan nada yang sangat kecil dan lembut, dia menjabat tanganku lalu menyebutkan namanya,

“Saya ibu Sani, ada maksud apa kalian datang ke mari?”

Setelah pertanyaan yang dilontarkan kepada ibu Sani, ibunya Mimin membawa wanita itu ke luar rumahnya. Sepertinya dia akan menceritakan maksud kedatangan kami ke rumah ini. Cukup lama mereka berbicara sampai akhirnya mereka pun masuk kembali. Ibu mimin pun berbicara.

“Ibu Sani merupakan salah satu pengikut aliran yang ingin kamu tahu. Mereka menyebutnya Ahmadiyyah. Kalau kamu ingin tahu sesuatu bertanyalah pada bu Sani, karena selama ini di antara golongannya dia yang paling terbuka di sini. Kamu tenang saja dia akan menjelaskan kenapa dia ada di sini, dan menutup diri dari khalayak,” ibu Mimin menegaskan, lalu melirik ibu Sani yang waktu itu memandangku sangat dalam.

“Di kampung ini kami merasa aman, tak ada yang mencoba menghujat karena kami menjadi minoritas, tak ada yang mencoba menghina kami, dan membuat kami terisolir di sini.”

“Apa salahnya kami menyakini apa yang kami yakini ? Di tempat kami dulu, di kampung Legok, setiap pergi ke pasar dengan pakaian seperti ini, orang-orang selalu membicarakan. Ada yang bilang ninja nyasar, ada juga yang bilang mantan TKI Arab yang nggak digaji.”

Di tengah-tengah ceritanya dia pun menangis mengenang memori pahit yang pernah dia rasakan dengan keluarganya yang menjadi pusat hujatan orang karena memiliki perbedaan keyakinan dan peribadatan dengan khalayak.

“Kami juga pernah dilempari batu, kami yang menjadi minoritas merasa tersiksa dan merasakan tekanan batin yang sangat kuat, atas cercaan yang kami dapatkan setiap hari.”

Dia bercerita bahwa sampai akhir hayatnya dia akan tinggal di sini, kampung Cibunar, yang menurutnya dapat memberikan kedamaian hidup.

Setelah datangnya ibu Sani ke daerah itu, banyak orang yang mengikuti jejaknya untuk pindah ke daerah itu. Ada yang dari daerah asalnya ibu Sani yaitu kampung Legok, ada juga yang dari daerah lain yang mengetahui beritanya dari teman-teman mereka yang lain.

Aku yang mendengar menjadi sedih dan sangat iba.

Setelah dirasa cukup, aku pun pamit pulang dari rumah bu Sani. Aku memberikan spirit untuk tetap semangat, dia pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Di lain tempat, ibu Mimin pun mengatakan, meski pun dari luar golongan itu disebut minoritas, tapi di kampungnya jumlah pemeluk Ahmadiyah sudah menyeimbangi penduduk aslinya.

Aku pun berpamitan pada ibu Mimin, tak lupa dia berterimakasih atas moci yang aku bawa.

Untung saja, ternyata masih ada orang masih peduli dengan orang lain. Yakni dengan memberikan rasa toleransi yang tinggi terhadap bu Sani dengan memberikan rasa aman dan nyaman untuk tetap tinggal. Seperti yang dilakukan ibu Mimin dan beberapa tetangganya yang memiliki pemahaman agama yang sama dengannya.

Sangat miris sekali, di tengah-tengah kemerdekaan Indonesia yang paling dikenal dengan toleransinya, ternyata masih menyimpan segudang kisah memilukan. Tentang kejinya perlakuan yang dilakukan satu kepada yang lainnya. Contohnya ibu Sani dan golongannya yang menjadi bahan diskriminasi khalayak karena memiliki pemahaman yang berbeda terhadap agama yang dianutnya.

Mereka bersembunyi di balik kerudung hitam dari orang-orang intoleran, agar tidak menjadi cercaan dan hujatan orang, sebagai langkah untuk mencapai kedamaian hidup. 
(tamat)

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Asih Nurasiyanti Aku sosok pribadi yang sederhana, dan selalu belajar menghargai setiap orang. Periang dan suka dengan sesuatu yang baru. Aktivitasku) sebagai mahasiswi di perguruan tinggi di Sukabumi, dan sedang mendalami agama Islam di pondok pesantren di kota yang sama. Menghabiskan waktu senggang dengan mengajar di SMA.


Foto milik flickrhivemind.net
0

Bersembunyi di Balik Kerudung Hitam* (3)

Oleh Asih Nurasiyanti**

 

Baca bagian 1 
Baca bagian 2

Beberapa hari yang lalu, aku datang ke rumah Mimin, dengan satu kotak moci Sukabumi yang sengaja kubeli di tempat oleh-oleh. Aku ingin mengetahui kebenarannya, apakah yang dilontarkan pamanku benar adanya, atau hanya isu tak penting dan sebagai kabar burung yang tak jelas. Sesampainya di tempat Mimin, ternyata usahaku nihil karena Mimin yang kucari tak ada di rumah. Dia sedang bekerja di luar kota. Hanya ada orang tua Mimin yang sedang menyapu halaman rumah.

“Eh kamu toh, Asih, ke sini ko nggak bilang-bilang. Gimana kabarnya sehat? Mimin sedang bekerja sejak tiga minggu lalu”

Dia menghampiriku ketika aku sampai di rumah nya. Awalnya aku ragu untuk menceritakan hal ini, tapi aku bersikeras untuk menanyakannya. Setelah membuka percakapan dengan beberapa menit intermezzo, akhirnya dengan bahasa yang hati-hati aku pun menanyakan hal yang menjadikan aku melangkahkan kaki datang ke sana. Ketika aku ceritakan ini kepada ibunya Mimin, spontan dia tertawa kecil.

“Ada apa toh? Sudah lama nggak datang ke sini, sekali ke sini kamu nanya nggak penting. Masalah itu nggak ada hubungannya sama kamu. Biarkan mereka hidup, karena setiap manusia punya hak untuk itu.”

Mendengar jawaban seperti itu rasanya aku menjadi malu, tapi aku menjadi lebih penasaran karena yang aku tangkap dari pembicaraannya seakan-akan ada yang pernah tersakiti.

Untuk mendapatkan beritanya, akhirnya aku ceritakan maksudku bahwa datang ke sana adalah karena sebuah tugas. Ya, aku menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu aku mengikuti sebuah seminar. Di dalamnya ada beberapa unsur yang sangat penting sekali untuk dikaji, yaitu tentang toleransi dan perdamaian. Bahwasanya setiap manusia memiliki hak dalam keyakinannya masing-masing dan tak perlu kita melakukan primordialisme untuk memperkuat suku. Karena hak setiap suku adalah sama – yakni hidup nyaman, aman, dan tentram.

Akhirnya setelah mendengar pernyataanku, ibu Mimin langsung masuk ke dalam kamarnya dan tak lama dia pun keluar lagi. Dia menuntunku ke sebuah rumah tak jauh dari rumahnya. Suasana kampung itu cukup sepi, setiap rumah ditutup rapat-rapat.

Ibu Mimin mengetuk pintu rumah itu, dan keluar seorang lelaki paruh baya yang akhirnya mempersilahkan kami masuk. Rumahnya sedikit kotor dan tidak terurus. Kaca rumahnya penuh dengan debu dan ada beberapa sampah berserakan di dalam rumah.

“Sebenarnya siapa yang sedang aku kunjungi ini?” ucapku dalam hati. Tapi aku tak berkutik sedikitpun, hanya diam menanti sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah lelaki paruh baya pergi ke ruangan lain, tak lama aku menunggu datang lah sosok wanita yang sudah paruh baya juga. Yang membuat aku terkejut adalah dia sosok yang ingin kucari tahu informasinya. Seseorang berpakaian panjang bercadar dan berjilbab sampai menutupi seluruh tubuhnya ada di depan mataku saat ini!

Bersambung ke bagian 4
---

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Asih Nurasiyanti Aku sosok pribadi yang sederhana, dan selalu belajar menghargai setiap orang. Periang dan suka dengan sesuatu yang baru. Aktivitasku) sebagai mahasiswi di perguruan tinggi di Sukabumi, dan sedang mendalami agama Islam di pondok pesantren di kota yang sama. Menghabiskan waktu senggang dengan mengajar di SMA.


Foto milik flickrhivemind.net
0

Bersembunyi di Balik Kerudung Hitam* (2)

Oleh Asih Nurasiyanti**

 

Baca bagian 1

Suatu pagi di bulan Agustus, kala matahari mulai menggeliat untuk terbangun, aku bergegas pergi ke suatu tempat untuk menjumpai kawan lama. Kami saling mengenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar, namanya adalah Mimin.

Tempatnya memang cukup jauh, sekitar dua jam dengan kendaraaan umum aku baru sampai ke rumahnya. Kampung Cibunar, di Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, itulah nama kampungnya. Aku memang jarang sekali menjumpainya untuk bersilaturahmi, karena dia kerja di luar daerah.

Ketika aku sampai di depan rumah nya, ternyata Mimin sudah menunggu di depan pintu–sebagai tanda dia sudah membaca pesanku yang akan menjumpainya dalam waktu sepagi itu. Maklum waktu itu aku sangat sibuk dan hanya memiliki waktu di pagi hari saja.

Mimin pun mempersilakan aku masuk, tapi aku lebih memilih teras rumahnya untuk duduk karena pemandangan di luar rumah sangat indah dan rapi. Di luar rumah itu ada pohon-pohon rindang dan tanaman hias yang membuat mata menjadi hijau dan sangat menyejukkan sekali.

“Kamu makin cantik saja!” aku mengawali pembicaraan kami.

“Kamu makin gendut!” balas Mimin sambil tertawa kecil tanda bergurau.

Kami pun berbincang-bincang panjang lebar. Sampai di tengah perbincangan kami, aku bertanya sesuatu tentang apa yang kulihat, dan dia menunduk tanda bingung untuk menjawab.

Pada waktu itu aku melihat sekelompok wanita yang memakai jilbab hitam panjang menutupi pantat, bercadar, dan juga pakaian gamis hitam, melewati rumah Mimin.

“Wah, itu siapa, Min, kok dandanannya aneh kayak di Arab saja?” ujarku.

Mimin pun menghela nafas dan menjawab sambil menunduk.

“Hanya ibu-ibu pengajian saja kok!” timpal Mimin yang sepertinya tak suka aku membahas tetangga nya.

Akhirnya aku pun mengalihkan pembicaraan supaya tetap hangat. Kami pun terus bercerita tentang pengalaman masing-masing ditemani dengan secangkir teh dan beberapa makanan. Sampai pada akhirnya aku harus berpamitan dengan Mimin.

Aku menjadi penasaran terhadap satu golongan itu. Yang membuat aku penasaran adalah kenapa Mimin harus gugup menjawab pertanyaanku. Pertanyaan itu menggelayut di pikiranku sampai aku bertanya kepada pamanku, tentang kampung Cibunar dengan para wanitanya yang bercadar. Paman pun spontan mendiskriminasi minoritas tersebut dengan cap aliran berbeda dengan ahlus sunnah waljama’ah.

Bersambung ke bagian 3
Bersambung ke bagian 4

---

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Asih Nurasiyanti Aku sosok pribadi yang sederhana, dan selalu belajar menghargai setiap orang. Periang dan suka dengan sesuatu yang baru. Aktivitasku) sebagai mahasiswi di perguruan tinggi di Sukabumi, dan sedang mendalami agama Islam di pondok pesantren di kota yang sama. Menghabiskan waktu senggang dengan mengajar di SMA.


Foto milik flickrhivemind.net
0

Bersembunyi di Balik Kerudung Hitam* (1)

Oleh Asih Nurasiyanti**

 

“Dunia hanyalah panggung sandiwara”

Pernah mendengar istilah itu? Ya, kita yang hidup di dalamnya bak yang memainkan peran dalam sebuah film yang diatur sutradara. Kita tak dapat semena-mena melakukan hal yang kita inginkan selain yang telah dinaskahkan oleh sutradara. Semua telah diaturnya.

Jadi setiap manusia memiliki jalan hidupnya sendiri. Tentu hal itu telah diatur oleh Sang Pencipta yakni Tuhan yang Maha Esa, dan kita tak perlu repot-repot mengurusi naskah orang, yang pada kenyataannya belum tentu naskah hidup kita lebih baik dari mereka yang kita ragukan kebagusannya. Di sinilah letak toleransi berperan penting terhadap sesuatu yang kita jumpai dinyana bertolak belakang dengan apa yang kita pikirkan.

Dunia itu hanya sebagai tempat senda gurau dan juga permainan. Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk membuat hidup menjadi bermakna? Jawabannya adalah hanya dengan ibadah kepada Tuhan baru hidup menjadi bermakna. Tetap teguhkan hati jangan sampai terbawa oleh sesuatu yang dapat menjatuhkan kita kepada jurang kenistaan, dan selalu berwasiat dalam kebaikan. Seandainya sebagian dari mereka menolak ajakan kita, toleransi merupakan modal emas dalam hidup mencapai damai bersama orang yang heterogen. Karena hidup dengan toleransi sangatlah indah...

Untuk itu aku akan menceritakan satu pengalaman lintas agama, di mana toleransi merupakan sesuatu yang harus dikobarkan, disemarakkan, dan dihidupkan.

Kejadian ini sekitar satu tahun lalu, ketika aku duduk di bangku semester tiga sebuah universitas swasta di Sukabumi. Suasana sumpek membuatku ingin keluar dari rutinitas keseharianku dengan belajar dan membaca. Akhirnya kuputuskan mengujungi kawan lama.

Bersambung ke bagian 2
Bersambung ke bagian 3
Bersambung ke bagian 4

---

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Asih Nurasiyanti Aku sosok pribadi yang sederhana, dan selalu belajar menghargai setiap orang. Periang dan suka dengan sesuatu yang baru. Aktivitasku) sebagai mahasiswi di perguruan tinggi di Sukabumi, dan sedang mendalami agama Islam di pondok pesantren di kota yang sama. Menghabiskan waktu senggang dengan mengajar di SMA.


Foto milik flickrhivemind.net
0

Takdir Lain* (4 - tamat)

 Oleh Siddika Tahira**

Baca bagian 1
Baca bagian 2
Baca bagian 3

Akhirnya aku sampai di sebuah hari… hari ketika aku merasa harus melangkah keluar dan membuka diriku pada sebuah tempat lain di dunia kecil ini. Aku mulai bertemu lagi dengan beberapa orang baru yang sempat aku pikir sama dengan mereka—yang sering risih dengan perbedaan.

Aku melihat lagi, ada ketakutan semacam sebuah rasa keterasingan dan kekhawatiran tak akan diterima. Aku sangat lambat bereaksi dan menanggapi. Aku tahu beberapa orang di sini, sayangnya setiap sel tubuhku berkata, “Siapapun itu, ketika mereka terlalu ‘Islam’, berhati-hatilah!” Namun, apa yang aku temui di sini?

Lambat-laun aku mulai bisa tertawa dan menunjukkan diriku apa adanya bersama mereka. LENSA, FOPULIS dan keluarga READY. Entahlah, ini seperti takdir lain dalam hidupku yang rumit. Meski kecanggunggan masih sering menyerangku, aku merasa lebih nyaman bersama mereka karena aku bisa mengatakan siapa aku, bagaimana diriku, tanpa takut akan diskriminasi.

Mereka perlahan membuat aku percaya tak semua orang bersorban, berpeci, dan mereka yang fasih beragama itu ‘sama’. Ada juga lho, mereka yang mau memahami bahwa kita memang berbeda, dan tak ada hak bagi manusia mengatakan siapapun kafir. Itu jelas bukan hal yang bisa manusia lakukan, itu hanya hak prerogatif milik Allah semata.

Semua rekan di sini juga membuatku kian sadar bahwa aku tak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mencari tempat yang nyaman dan mau menerimaku. Indonesia sesungguhnya adalah tempat itu, hanya saja memang kita perlu bekerja lebih keras serta lebih lapang dada dalam mewujudkannya.

Astaghfirullah… rupanya ini…”

Ibarat aku mencari orang lain, yang tak lain adalah diriku sendiri. Selama ini aku terjebak dalam stigma negatif yang diakibatkan mereka yang intoleran terhadap perbedaan di negeri kita.

Ketika aku merasa menjadi lebih Indonesia. Ketika aku merasa aku memang Indonesia. Di sini, bersama mereka, aku melihat bagaimana kami semua dapat sama-sama tersenyum, tertawa, berbaur, bahkan bercanda satu sama lain meski aku tak sepaham aliran dengan mereka. Itu yang selama ini hilang dari pandangan mataku.

Ketika kamu tak hanya mendekati sebab kepentingan, melainkan tulus karena kamu memiliki hati yang sama mencintai negeri ini serta semua yang ada di dalamnya. Ketika yang lain menjunjung sisi liberalis, kapitalis, sosialis, dan komunis, aku merasa kita harus lebih bangga karena kita memiliki Pancasila.

Berbeda dan luar biasa! Kita—Indonesia—memang keren! Subhanallah… Allah memang sang Kuasa. Dia yang telah menyatukan kita sebagai Indonesia. Thanks God, I feel so grateful!

(tamat)

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Sida Siddikah Tahirah saat ini masih menempuh pendidikan di Universitas Terbuka jurusan Sastra Inggris. Dua hal yang paling disukainya: membaca dan menulis. Rasanya hampir tak pernah bisa lepas dari buku, alat tulis dan gadget-nya. Baginya, menulis menjadi medianya untuk menyebarkan pesan perdamaian kepada semua orang, "Love for all, hatred for none..."

Foto milik flickrhivemind.net
0

Takdir Lain* (3)

 Oleh Siddika Tahira**

Baca bagian 1
Baca bagian 2

Ketika itu aku sudah duduk di bangku kelas 12 SMA. Aku sudah lelah berada di negeri penuh kemunafikan ini. Hatiku membara dalam kekesalan ketika mengingat semua perjalanan hidupku yang kira-kira sudah hampir 18 tahun aku lewati separuhnya lebih dengan merasa begitu asing dan diabaikan.

“Aku ingin pergi dari sini!”

Seolah aku tengah berteriak kencang di dalam kepalaku sendiri. Huh! Aku sudah merencanakan hidupku ke depannya. Meski aku mungkin hanya akan menjadi lulusan dari sekolah ranking 4 di Kota Sukabumi, tapi tekadku kuat dan bulat akan pergi mencari ilmu di tempat yang lebih baik dari tempatku bernapas hari ini. Rasanya semua itu sudah sampai ke ubun-ubun dan menjalar ke seluruh inti sel di tubuhku.

“Aku benar-benar bersemangat!”

Satu hal yang mungkin belum banyak diketahui teman-teman sekolahku. Aku ini berafiliasi keagamaan apa? Akan aku jawab mungkin dengan agak bertele-tele, kecuali yang menanyakannya adalah teman sekolah yang berbeda agama, aku pasti akan menjawab pertanyaan itu dengan tenang dan lantang.

Sayangnya, teman berbeda agama di sekolah hanya bisa dihitung jari dan mereka pun tak tertarik dengan tema obrolan seperti itu. Tentu saja! Tema itu adalah obrolan sensitif juga bagi mereka, sama halnya denganku. Banyak dari mereka—muslim—yang aku kenal di sini cenderung kurang menerima perbedaan, termasuk guru-gurunya. Tak jarang seolah ada sikap meremehkan bahkan merendahkan terhadap mereka yang tak sepaham agama atau aliran. Aku jadi heran sendiri, “Kenapa sih?”

Lama kelamaan, aku jadi semakin terlalu malas membahas hal-hal keagamaan dengan teman-teman di sekolah—kecuali ketika pelajaran agama. Di kepalaku, semua orang yang terlalu relijius itu sama saja seperti mereka yang sering ‘mengganggu kami’.

Aku selalu saja merasa risih ketika masuk Pelajaran Agama Islam, bisa disebut aku bahkan pernah masuk periode Islamophobia—padahal aku juga Muslim. Bukan karena terorisme seperti yang diisukan di negara lain, tapi karena aku tidak suka dengan mereka yang berbaju sorban, berpeci sok alim, dan bicara begitu fasih mengenai Islam, namun di sisi lain mereka menghakimi saudara seagama dan saudara sebangsanya.

Batinku muak, dan selalu saja muncul perasaan ingin pergi saja. Aku masih ingat pelajaran hadits yang pernah aku lewati di madrasah diniyah ketika masih SD, “Khubul waton minal iman, artinya berbakti kepada negara sebagian dari iman.”

Kadang aku berpikir, kenapa aku harus berbakti dan mencintai negeri yang mengkhianatiku? Apa aku harus tetap membela negara yang bahkan ketika seorang korban yang tangannya hampir putus akibat kekerasan atas nama agama diperlakukan dengan tidak adil bahkan turut dipenjarakan pula? Apa itu negara? Rasanya, lebih baik menjadi apatis dan tak ingin terlalu banyak berharap kepada negara ini.

---

Bersambung ke bagian 4

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Sida Siddikah Tahirah saat ini masih menempuh pendidikan di Universitas Terbuka jurusan Sastra Inggris. Dua hal yang paling disukainya: membaca dan menulis. Rasanya hampir tak pernah bisa lepas dari buku, alat tulis dan gadget-nya. Baginya, menulis menjadi medianya untuk menyebarkan pesan perdamaian kepada semua orang, "Love for all, hatred for none..."

Foto milik flickrhivemind.net
0

Takdir Lain* (2)

 Oleh Siddika Tahira**



Di suatu istirahat, aku terduduk diam di bangkuku dan terpaku merasakan sakit di dadaku yang juga belum kunjung sirna. Beberapa kali aku coba menarik napas dan menenangkan diri, namun rasanya sangat sulit kala itu.

“Hey!” sapa Nita yang duduk di sampingku sejak tadi.

Tampak mata sipitnya mengamatiku yang diam saja tanpa suara seolah kehilangan nyawa. Dengan nada penasaran dan khawatir, dia terus membujukku untuk bicara.

“Eh, ada apaan sih? Tumbenan lo diem begitu?”

Aku masih diam dan berusaha menyangkal sambil tersenyum kaku.

"Ah, nggak kok, nggak ada apa-apa."

“Halah! Ada apaan sih? Lo mah bikin gue penasaran! Kalau ada apa-apa, lo bilang aja sama gue. Ayo dong! Ini mah kagak kayak lo banget!”

Adhitia yang duduk di depanku turut membujuk karena ikut khawatir melihat tingkahku yang tak biasa, “Iya Da, cerita aja ngga apa-apa, kok! Dari pada dipendem terus, ntar sakit lagi…”

Kami sudah mengenal cukup lama dan dekat. Mereka dapat merasakan ada yang berbeda dengan sikapku belakangan ini. Tak lama, Ferry—teman kami dari kelas lain, sama seperti Adhit—datang menyambangi kami di kelasku. Dia ikut heran ketika melihat aku yang diam dan tak bersemangat, bahkan nampak begitu sedih. Dia menatap ketiga anak perempuan di sekelilingnya dan mengamati ekspresiku dengan hati-hati.

“Ada apaan?”

Aku masih diam dan menimbang-nimbang, apakah aku benar-benar harus mengatakannya dan membuat mereka berhenti bertanya-tanya? Lalu, apakah mereka juga akan bisa tetap menerimaku ketika tahu aku siapa? Batinku bergejolak. Air mata tak lagi sanggup ku tahan, dan pecah begitu saja, saat ingin aku ucapkan kata pertama kepada mereka.

“Jadi… sebenarnya…,” kata-kataku terpotong isak tangis “aku lagi mikirin yang insiden penyerangan… Cikeusik…”

Air mataku tumpah ruah membasahi pipi dan rambut panjangku yang kala itu masih aku biarkan terurai begitu saja, ikut basah di beberapa bagiannya. Nita spontan bergerak lebih dekat kepadaku dan meraih bahuku, menenangkan. Mereka tampak bersimpati ketika aku menceritakan perasaanku sebagai seorang Ahmadi atas kabar penyerangan itu. Aku tak bisa berhenti menangis di hadapan mereka.

Di luar dugaanku, mereka sangat respect dan turut menyatakan kesedihan serta kekecewaan mereka atas kejadian mengerikan itu. Mereka sangat menunjukkan simpatinya kepadaku. Aku merasa bagaikan dipeluk semua orang orang di dunia ketika itu.

Aku sadar, mereka tak akan memperlakukanku dengan buruk atau bertanya ini-itu yang membuatku risih setelahnya. Bahkan mereka sangat menyayangkan kejadian menyedihkan semacam itu, dan upaya pemerintah juga dianggap sangat kecil untuk menghindarkan tindakan tidak manusiawi kepada warga negara di negaranya sendiri.

Meskipun kami masih SMP kala itu dan tergolong masih labil, namun aku bisa merasakan kehangatan pertemanan kami yang lintas agama dan lintas iman ini. Kami memang sama-sama sering mendapat tatapan sinis orang lain ketika tahu apa agama atau iman kami. Aku merasa serasa dan sepenanggungan dengan mereka. Kala itu, ada sesuatu yang mulai kembali berubah.

Di SMP, aku sangat akrab dengan dua orang teman dekat yang masih sering saling menghubungi hingga sekarang: Nita dan Adhit. Aku selalu tersenyum berseri ketika mengenang kebersamaan dengan mereka. Kami pertama kali dekat ketika sama-sama ada di kelas yang sama, 8A

Kedekatan itu terasa begitu special dan luar biasa ketika aku sadar kami bertiga berbeda agama dan hampir setiap hari makan siang bersama sambil menceritakan banyak hal menarik. Yang paling unik adalah tema obrolan mengenai kegiatan keagamaan kami setiap minggu.

Aku masih ingat saat kami saling melempar senyum karena keluhan masing-masing dalam kegiatan keagamaanku di masjid, Adhit di gereja, dan Nita di vihara. Itu momen yang luar biasa menurutku. Meski tak jarang orang melirik aneh ketika melihat kebersamaan kami saat ini. Aku berhijab, jalan dengan Adhit dengan dandanan cuek khasnya, ataupun dengan Nita yang sipit, putih, plus gaya bicaranya yang jelas menujukkan etnisnya.

Kenapa harus ada orang yang masih kebingungan dengan perbedaan, coba?

---

Bersambung ke bagian 3
Bersambung ke bagian 4


*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Sida Siddikah Tahirah saat ini masih menempuh pendidikan di Universitas Terbuka jurusan Sastra Inggris. Dua hal yang paling disukainya: membaca dan menulis. Rasanya hampir tak pernah bisa lepas dari buku, alat tulis dan gadget-nya. Baginya, menulis menjadi medianya untuk menyebarkan pesan perdamaian kepada semua orang, "Love for all, hatred for none..."

Foto milik flickrhivemind.net
0

Takdir Lain* (1)

 Oleh Siddika Tahira**


‘Cintai Produk Indonesia!’

Seketika aku mendengus membaca banner besar yang aku lihat di sepanjang perjalananku menuju sekolah. Entah kenapa itu kedengarannya munafik. Aku sendiri tak merasa mencintai Indonesia sebesar itu, dan benakku dengan keras mendukung bahwa pasti tak semua pejabat pemerintah pun sama konsistennya dengan apa yang mereka suarakan. Aku tak tahu bagaimana nada bicaraku ini, apa tampak seperti pengkhianat bangsa?

Kenangan masa lalu membekas dengan jelas di ingatanku. Bisa dibilang, aku ini saksi dan juga korban kekerasan bermotif agama dan keyakinan sejak aku masih kecil. Sebagai seorang Ahmadi keturunan, aku tahu benar setiap cerita penyerangan di daerah tempat aku tinggal semasa kecil. Karena dulu rumah almarhumah nenekku tepat di depan masjid tempat kami beraktivitas dan beribadah.

Mulai dari cerita yang aku dengar, sampai ke cerita yang aku rasakan, dan kulihat sendiri runtut kejadiannya. Aku rasa aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Termasuk, ketika aku masih duduk di bangku SD kelas 6, aku melihat sendiri dengan kedua mataku bagaimana beberapa puluh orang bersorban putih sambil berteriak-teriak tak karuan melempari masjid kami dengan batu dan berusaha menghancurkannya, seolah itu adalah tempat yang hina. Bagaimana bisa mereka berbuat seperti itu?

Aku juga melihat—meski hanya lewat siaran televisi—bagaimana saudara-saudaraku yang sedang mengikuti pertemuan tahunan atau Jalsa Salana di Parung, Bogor, diperlakukan begitu kejam seperti mereka adalah orang-orang jahat yang patut dihukum.

“Padahal apa yang mereka lakukan?”

Mereka hanya mempertahankan tempat mereka, hak mereka dan melindungi saudara mereka yang lain di sana. Perlahan tanpa aku sadari, aku memupuk kebencian halus kepada negeri tempat aku bernaung selama ini.

Yang paling pahit yang pernah aku rasakan adalah ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas 9. Aku baru saja pulang dari SMAN 1, sehabis mengikuti perlombaan bahasa Inggris bersama teman-teman. Aku ingat, hari itu ketika pulang sekolah aku masih menggunakan baju seragam olah raga—bercelana biru pendek dan kaos berwarna sama juga dengan lengan pendek—dan salim kepada papah sambil menunjukkan senyuman beseri karena dapat meraih juara III.

Namun seketika itu senyumku sirna, hilang begitu saja, kala menengok televisi yang ditonton papah sedang menayangkan berita kasus penyerangan Cikeusik. Aku terhenyak. Aku sebenarnya tak terlalu paham, namun yang segera muncul di batinku adalah, “Ada apa lagi sih?”

Aku terduduk di samping papah dengan mata masih tertuju ke televisi. Mendadak dadaku begitu perih.

Berhari-hari berita penyerangan itu menjadi hot news di mana-mana. Setiap jam, setiap waktu, dan hampir di setiap tempat, semuanya membicarakan itu. Tak luput juga pembicaraan serupa pernah aku dengar di sekolah.

Ketika aku masuk ke ruang guru hendak menyampaikan tugas kepada guru Biologi. Aku dengan jelas melihat wajah serius mereka yang turut mendengarkan pendapat (Almh.) Bu Hj. Yetty, selaku salah satu guru senior—yang muslim—di sekolah Katholik ini.

“Wuihh! Sadis banget itu yang di Cikeusik…”

Aku sempat terdiam sesaat setelah mendengarnya. Batinku kembali bergejolak, dan entah kenapa ada rasa sakit yang bersarang di dadaku setiap mengingatnya lagi. Sambil berjalan keluar aku masih terus memikirkannya dan berusaha menenangkan diriku sebaik mungkin.

---

Bersambung ke bagian 2
Bersambung ke bagian 3
Bersambung ke bagian 4

*Tulisan ini adalah karya naratif peserta pelatihan menulis naratif Forum Pemuda Lintas Iman Sukabumi yang digelar di kota tersebut, 31 Oktober lalu. Peserta dibekali materi oleh aktivis Jakatarub Risdo Simangunsong dan proses penulisan didampingi Jurnalis KBR 68H Rio Tuasikal selaku mentor.

**Sida Siddikah Tahirah saat ini masih menempuh pendidikan di Universitas Terbuka jurusan Sastra Inggris. Dua hal yang paling disukainya: membaca dan menulis. Rasanya hampir tak pernah bisa lepas dari buku, alat tulis dan gadget-nya. Baginya, menulis menjadi medianya untuk menyebarkan pesan perdamaian kepada semua orang, "Love for all, hatred for none..."

Foto milik flickrhivemind.net

0

Sekar Sawargi, the Art of Udunan

Teks oleh Rio Tuasikal
Foto oleh Nadia Priatno, Yunita Chen

  


Selamat datang di "Sekar Sawargi", kios produk kreatif hasil kolaborasi. 

Adalah Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub), Gereja Kristen Pasundan, dan Praxis in Community yang bergandengan tangan membuka lapak ini. Ketiga komunitas ini sering menjalin kerjasama dalam acara isu perdamaian seperti #BDGLautanDamai, atau isu perempuan.

Tak aneh bila slogannya adalah the art of udunan.

"Ini sebagai salah satu sumber penghasilan komunitas untuk semakin mandiri dalam mengelola gerakannya. Selain untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan para anggota," jelas Iska Dinarristy dari Jakatarub.

Firman Sebastian (Jakatarub), bang Tobing (LayarKita), Wawan Gunawan (Jakatarub), dan Aty Suandi (Praxis in Community) berfoto bersama usai launching Sekar Sawargi di Baltos Bandung, Minggu (1/3) siang.



Kios di Balubur Town Square ini menyediakan berbagai produk kreatif. "Seperti produk rajutan dalam bentuk bros, kupluk,tas, kalung. Berikut bahan wol untuk merajut yang juga dijual," jelas Iska lagi.

Kios juga menyediakan taplak meja dan tas dari kain batik. Tak lupa: buku Dialog 100 yang berisi 100 kisah persahabatan lintas iman 

 
 
 
 

Pembukaan kios Minggu (1/3) kemarin diisi dengan workshop merajut bagi pengunjung. Berikut keramaiannya.

  

Bagi komunitas ini, melewatkan foto adalah dosa besar.



SEKAR SAWARGI
The Art of Udunan
Lantai D 1 - Kios L 08
Balubur Town Square
Bandung

Facebook Sekar Sawargi
Twitter @sekarsawargi
Instagram @sekar_sawargi
0

YIC 4 merawat pohon kebhinekaan









Segala kebaikan..Takkan terhapus oleh kepahitanKulapangkan resah jiwa..Karna kupercaya..Kan berujung indah
Kau membuatku mengerti hidup iniKita terlahir bagai selembar kertas putihTinggal kulukis dengan tinta pesan damaiKan terwujud harmony


Youth Interfaith Camp 4, Griya Sekesalam Bandung, 19-21 September 2014

0

Lintas Iman Lintas Pemuda Lintas Batas

Ada yang tidak biasa di Griya Krida Sekesalam, Bandung, pada tanggal 19 September sampai 21 September 2014.  Sekitar 70 orang mahasiswa dari seluruh Jawa Barat berkumpul untuk berdialog mengenai perbedaan.

(foto: Yora Setya Pratama /Ricky Husein)

Mereka memilih untuk menjembatani perbedaan keyakinan mereka dengan jalan damai, bukan ribut-ribut apalagi bentrok dan rusuh.

(foto: Yora Setya Pratama /Ricky Husein)

Para pemuda itu berkumpul dalam kegiatan Youth Interfaith Camp angkatan ke 4, yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama, Gereja Kristen Pasundan, serta Universitas Maranatha. Tahun ini, Youth Interfaith Camp dilaksanakan dengan tema "Merawat Pohon Kebhinekaan". 

(foto: Yora Setya Pratama /Ricky Husein)

Sudah saatnya Bhineka Tunggal ika dipupuk, dirawat dan dijaga, bukan sekedar hiasan dinding dibawah gambar Garuda Pancasila. Masa depan Indonesia, masa depan toleransi ada di tangan anak-anak muda. 

(foto: Yora Setya Pratama /Ricky Husein)

Layaknya pohon yang tumbuh dan mengakar, para pemuda adalah akar-akar perdamaian yang merambat ke seluruh penjuru Indonesia. Selamat bertugas para pemuda duta damai! Berjumpa lagi dalam Youth Interfaith Camp tahun depan.

(foto: Yora Setya Pratama /Ricky Husein)

Tulisan mengenai rangkaian acara Youth Interfaith Camp angkatan ke-4 juga dapat dilihat di: Membangun Pohon KeBhinekaan di Griya Sekesalam



0

Buka Puasa Lintas-Iman CINTA Indonesia


Tatin, Pandu, Tata, Rio, Dyah, Robin, dan Michelle tidak 
semuanya muslim. Tapi di Warung Pasta Kemang, 
Minggu (20/7) kemarin, kebersamaan 
lebih dari persoalan puasa atau tidak.

Foto di atas diambil oleh mbak pelayan yang murah senyum :)





 Committee for Interfaith and Intercultural Tolerance (CINTA) Indonesia
Berbasis di Jakarta dan berjaring di kota-kota besar lain di Indonesia.
0

Hore Ramadhan!


Segenap kru dan penulis  
untukharmoni.com mengucapkan 
selamat Ramadhan 
bagi sahabat muslim yang merayakan
0

Suatu Petang di Jogja Awal 2014


Foto milik : Lexy Rambadeta

Lexy : 8 Januari 2014, saat berkendara melalui jalan Loji Kecil yang gelap di Jogja, Saya melihat dua orang dengan berpakaian simbol dua agama, bergandengan tangan hendak menyeberang jalan. Saya berhenti dan bergegas mememotretnya. Foto-foto ini saya naikkan exposurenya agar lebih terang gambarnya. negrikartun@yahoo.com

0

Sharing bareng Alissa Wahid

Alissa Wahid saat sharing (foto: @riotuasikal)

Catatan oleh Risdo Smangunsong

Pembahasan dalam Sharing dengan Mbak Alissa Wahid sebelum acara Haul Gusdur
28 Desember 2013, 16.00-18.00

Acara sharing ini semula diniatkan untuk ngobrol secara pribadi antara Jakatarub dan rekan-rekan PMII Tasikmalaya dan Indramayu dengan Mbak Alissa, namun ternyata usulan tersebut juga diresponi oleh rekan-rekan IJABI, ABI, JAI, Masyarakat Baha’i, GKI Yasmin, HKBP Filadelfia dan YPKP 65. Bersama Mbak Alissa juga hadir tim dari Wahid Institute, Komnas HAM, AMAN dan beberapa Jaringan Gusdurian lain.

Acara dimulai dengan pengantar dari Mbak Alissa dan Komnas HAM, dilanjutkan sharing dari komunitas yang selama ini mengalami penindasan HAM, lantas membahas beberapa hal sebagai solusi.

Dalam pengantarnya Mbak Alissa menekankan kebersamaan untuk tidak lagi sekedar memandang diri sendiri ‘sekedar sebagai korban,’ namun melihat satu sama lain sebagai rekan seperjuangan yang tengah menghadapi pihak yang sama. Dalam hal ini kaum intoleran dan pengabaian negara. Komnas HAM lalu memaparkan kondisi penanganan HAM di tahun 2013 yang sudah dikategorikan sebagai ‘Darurat HAM’. Tidak ada perkembangan terkait penanganan HAM, termasuk masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Bahkan terjadi peningkatan intensitas (dalam hal jumlah, tingkat pelanggaran yang dilakukan serta semakin meluasnya aktornya). Dari sekitar 6.600 pengaduan yang masuk ke Komnas HAM di 2013, hanya sebagian kecil yang mulai ada perkembangan penahanan. Ada indikasi pembiaran dan sikap ‘saling lempar tanggung jawab’ antar aparat pemerintah (pusat dan daerah).

Dalam sharing dari beberapa komunitas terlihat dalam beberapa kasus pemerintah lebih memilih menunggu atau mengambangkan persoalan. Untuk kasus GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia misalnya, tidak ada indikasi dari pemerintah untuk segera melakukan eksekusi terhadap putusan hukum. Demikian pula untuk kasus pemulangan pengungsi Syiah di Sampang, meskipun sudah ada jaminan untuk rekonsiliasi namun pemulangan belum dilakukan. Hal yang sama juga terjadi untuk penyegelan mesjid JAI di Bekasi serta yang paling menahun kasus pengungsi Ahmadiyah di Transito, Mataram. Hak-hak sipil untuk agama yang ‘tidak diakui’ juga terus menjadi sorotan. Rekan-rekan dari Masyarakat Baha’i sampai saat ini tidak mendapatkan akta nikah sehingga akta kelahiran anaknya hanya mencantumkan nama ibu. Bahkan di beberapa tempat mereka dipaksa memilih satu dari enam agama yang diakui. Tidak hanya seputar kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan, rekan-rekan dari YPKP 65, juga merasakan pembiaran yang akut terkait tragedi 1965-1966. Tidak ada upaya peradilan maupun rekonsiliasi meski pemerintah telah menjanjikannya sejak lama.

JAKATARUB juga menambahkan bahwa badan-badan yang dibentuk pemerintah dengan pembiayaan uang rakyat ternyata seringkali berbalik jadi pendukung penindasan kaum minoritas (semisal FKUB di kasus GIA Cimahi) dan seringkali ditunggangi kepentingan politis. Ketidakpastian hukum sangat terlihat soal pendirian rumah ibadah dan kegiatan ibadah, bahkan juga untuk kasus kriminalisasi terhadap korban. Contoh paling nyata kasus Pak Palti Panjaitan yang justru didakwa melakukan tindakan penghasutan padahal beliau yang mengalami tindak kekerasan, demikian pula rekan-rekan PMII Indramayu yang membela kaum tani justru didakwa melakukan tindakan penghasutan dan pengrusakan.

Dalam membahas akar permasalahan untuk mencapai solusi Bapak Ahmad Suhaedi (WI) menyorot perubahan persepsi pihak luar terhadap Indonesia dari yang ‘ramah dan toleran’ menjadi ‘diskriminatif’ kebanyakan disebabkan oleh sikap pemerintah. Pidato presiden SBY Juli 2005 dalam acara Rakernas MUI mengindikasikan sikap presiden terhadap hal ini. Dimana presiden menyatakan ‘tunduk pada putusan MUI terkait persoalan agama Islam’. Bukan kebetulan jika sejak saat itu pelanggaran terhadap kebebasan beribadah (secara khusus kekerasan terhadap warga JAI) semakin sering terjadi. Fakta-fakta di lapangan membenarkan temuan ini. Seringkali fatwa MUI (nasional maupun lokal) atau tekanan dari kelompok ulama tertentu, justru dijadikan senjata untuk mendzalimi korban.

Cukup disayangkan memang, jawaban dari Komnas HAM terbilang normatif terkait respon dan rekomendasi yang dapat diberikan. Sebagaimana diakui, perjuangan ini memang terlalu berat jika sepenuhnya ditumpukan kepada komisi nasional yang satu ini. Namun pihak Komnas HAM juga mengingatkan bahwa seharusnya aparat pemerintahan dapat didesak untuk melakukan tindakan yang melindungi kaum lemah.

Dalam menyampaikan rekomendasi solusi Mbak Alissa mengingatkan sifat dan cakupan Jaringan Gusdurian yang mewadahi setiap orang yang merasa sebagai murid dari Gus Dur, sehingga bersifat terbuka dan interdependen. Jejak karya dan pemikiran Gus Dur sebenarnya tertanam di banyak bidang, oleh karenanya setiap daerah dan setiap ranah perlu terus berjejaring untuk mewarisi serta mengembangkan karya/pemikiran Gus Dur.

Terkait pelanggaran HAM dan lebih khusus KBB, Mbak Alissa merekomendasikan agar Jaringan Gusdurian:
  1. Memperdalam kajian terkait UU dan aturan di tingkat lokal yang berpotensi dijadikan senjata maupun memiliki celah untuk melakukan tindakan intoleransi.
  2. Membangun hubungan dengan pihak kepolisian terutama untuk memastikan pemahaman di tingkat aparat daerah terkait Protap Perlindungan HAM.
  3. Mendorong terbentuknya unit pelayanan khusus (sebisa mungkin multidimensi) untuk melakukan pendampingan terhadap kaum minoritas yang mengalami diskriminasi.
  4. Mengunggah kampanye kreatif demi mengususng persepsi bahwa HAM adalah produk lokal dan membumi di Indonesia (bukan sekedar produk asing yang dipaksa diterapkan di sini).

Sebagai tambahan saat ini rekan-rekan di Jaringan Gusdurian tengah merampungkan bahan untuk KPU dan penataran bagi para caleg soal bahaya dan risiko hukum dari kampanye-kampanye diskriminatif (hate speech, menyinggung SARA, dll). Diharapkan bahan ini dapat disampaikan pada tiap caleg dan juga dapat menjadi pegangan bagi masyarakat untuk membantu mengawasi.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com