(28) Membangun Persahabatan

Oleh Rio Tuasikal / @riotuasikal

[Baca dari tengah mungkin membingungkan, sila baca dari awal]


Sebanyak 200 porsi bakso jadi pesanan. Sekumpulan pemudi kemarin yang mengajukan tawaran. Katanya, buat silaturahmi gereja saat Lebaran. Aku tak tahu orang kristen ikut merayakan. Agak aneh, tapi aku tak begitu memikirkan.

Yang penting harus aku persiapkan. Maka selepas Subuh tadi, di pasar, aku sudah berkeliaran. Dari pedagang ayam sampai pedagang plastik langganan. Memesan daging sapi untuk kami jadikan bakso kemudian. Memastikan ada sawi, tauge dan mie untuk kami gunakan. "Harus yang segar," ujarku menitipkan.

Aku membeli tulang kaki sapi sebanyak delapan. Bawang putih, merah, cengkih, dan daun salam tak ketinggalan. Ini adalah resep kaldu andalan. Semuanya butuh persiapan. Siang ini harus langsung dikerjakan.

Setelah warung kami dilanda perusakan. Kini sampailah sebuah kesempatan. Untuk mengembalikan tabungan kami yang sempat berantakan. Untuk mengembalikan keberanian kami untuk berjualan.

Tak boleh disia-siakan.

Semuanya harus diperhatikan. DP ratusan ribu telah kami keluarkan.

Aku pulang dengan membawa bahan-bahan. Naik motor dengan sedikit gelagapan. Tulang kaki sapi dan bumbu aku taruh di antara selangkangan. Sangat membuatku kesulitan. Entah belok kiri atau kanan. Meski kesusahan, aku mencoba bertahan. Sebab bila berhasil besok, hasilnya akan sepadan.

Belokan demi belokan. Keresek tulang kaki sapi makin meresahkan.

Rumah sudah kelihatan. Kakiku menahan keresek itu agar bertahan.

Mungkin pada keresek itu aku terlalu curahkan perhatian. Sehingga aku tak sadar ada motor berhenti di hadapan. Gagang rem aku tekan. Tidak terjadi kecelakaan. Hanya saja keresek tulang jatuh ke jalan. Kereseknya bolong tak beraturan. Tulang-tulang berserakan. Dari tengah ke tepi jalan.

Aku langsung menepi sambil kebingungan. Sementara semua orang tetap lalu lalang. Kenapa orang-orang tidak pedulian?

Saat aku mengarah ke satu tulang, seseorang menepuk dari belakang. Satu tulang telah dia selamatkan. Sebuah bantuan. Pemuda yang sempat kuberi bakso beberapa hari ke belakang. Mengambil tulang sapi yang berantakan ke tepi jalan.

Sungguh aku ingin menyebutnya kebetulan.

"Berkati orang ini, Ya Tuhan." []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com