(29) Sesederhana itu


Oleh Risdo Simangunsong / @RisdoMangun

[Baca dari tengah mungkin membingungkan, sila baca dari awal]  



Pemuda yang dulu kusebut agak culun itu... pemuda yang pernah menyapaku dalam kekakuan, lalu yang juga memberiku semangkuk gurih mie bakso... ya dia, adakah dia menceritakan sesuatu kepadamu? Tadi aku berjumpa dengannya. Di jalan... tak jauh dari warungnya. Ia begitu tergesa, namun dalam engah-lelahnya kulihat ada harap-senang. Ia hampir terjengkang dari motor, menghamburkan belanjaannya berupa kaki sapi. Aku bantu dia memunguti daging dan belulang itu... lalu memberi senyum menyemangati. Ia sumringah... sesederhana itu.

Kau tahu memang tak ada yang rumit dalam kebaikan. Aku dan pemuda itu sudah tahu, sudah mengalami dan mengamalinya... kami senang... sesederhana itu

Hal sama juga terjadi maghrib ini. Aku, Opik dan yang lain menghantar sumbangan kami untuk beasiswa. Kami hantar ke orang yang kami kenal di acara buka puasa dekat gereja itu... Kami senang, orang itu pun senang dalam keterhenyakannya memegang sejumlah besar uang, yang takkan mungkin diharap bisa didapat kaum jalanan ... Sesederhana itu, meski sulit...

Ya, aku bisa memberimu daftar kekesalanku hari ini. Bulan ini. Tahun ini. Sepanjang hidup ini! Itu nyata, tak mungkin diabaikan. Tapi aku berharap akupun bisa menceritakan kepadamu setidaknya ada kebaikan yang masih bisa diberi... sesederhana itu... meski tidak selalu mudah.

Malam ini Encut melahirkan... dari tubuh hitamnya keluar kucing-kucing kecil. Awalnya satu,... lanjut hingga empat... Tidak semua hitam. Ada yang belang putih, ada juga yang agak kuning. Hitam tak selalu berbuah hitam, putih tak selalu berbuah putih... ada banyak warna yang mungkin... ada yang kita harapkan ada yang tak terduga... alam memang sesederhana itu, meski kita tak selalu mau menerimanya.

Ke depannya apakah anak-anak Encut akan tetap hidup? Apakah Encut juga masih hidup? Ke depannya apakah aku, Pat, Opik, Boncel dan yang lain akan tetap hidup menghirup debu jalanan ini? Apakah anak muda penjual bakso itu berhasil menggapai yang diingininya? Apakah pemuda-pemudi bermata sipit yang kemarin menyapaku itu akan terus bahagia? Apakah Ramadhan dan Lebaran tetap seperti sekarang ini adanya? Pertanyaan itu mungkin sederhana, namun tidak jawabannya.

Aku jelas tidak tahu... yang kutahu, di tengah keruwetan hidup... di tengah banyak kebrengsekan... masih banyak taburan kebaikan yang bisa diupayakan... tak peduli siapa atau apapun kita. Sesederhana itulah, walau memang berat...

Nggeus Lebaran aing teh kudu nyalon... pan rek mangkal deui di ditu...,[1]” seru Pat membuncah pembicaraan kaum sejenisnya... meminta jatah uang tambahan tentu saja... Aku pun tersadar dari lamunan sok pemikirku... menapaki kenyataan yang sama, yang seringkali sederhana namun kadang menggemaskan.

 ===========================================
[1] Habis lebaran aku harus ke ‘salon’, kan mau mangkal lagi di sana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com